REDAKSI88.com — Langkah pemerintah mengatur pembelian BBM dalam batas wajar hingga tangki penuh dinilai sebagai strategi jitu untuk meredam lonjakan konsumsi energi.
Ekonom INDEF, Abra Talattov, menyatakan bahwa konsistensi dalam menjalankan program ini berpotensi meringankan beban subsidi yang selama ini menekan APBN.
"Kebijakan ini bisa menahan laju konsumsi domestik agar tidak melonjak liar, sehingga tekanan terhadap APBN, khususnya BBM subsidi, tidak semakin dalam," ujar Abra pada Rabu (1/4).
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan regulasi baru terkait penggunaan barcode MyPertamina.
Melalui aturan ini, pembelian kendaraan pribadi dibatasi maksimal 50 liter atau setara satu tangki penuh, sementara kendaraan umum mendapatkan pengecualian.
Langkah ini bertujuan mendorong efisiensi energi serta mentransformasi budaya hemat BBM secara nasional.
Abra menekankan bahwa kebijakan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan upaya mengubah pola pikir masyarakat tentang keterbatasan sumber daya energi.
Baca Juga: Kadin Gorontalo: Penahanan Harga BBM April 2026 Jadi Napas Lega bagi Petani dan Nelayan
"Kebijakan pembatasan pembelian BBM ini perlu dibaca bukan sekadar langkah teknis, tapi sebagai sinyal antisipatif pemerintah untuk menyiapkan psikologis masyarakat menghadapi risiko pasokan energi yang bisa semakin ketat ke depan," tambahnya.
Namun, ia juga mengingatkan pentingnya reformasi subsidi agar lebih tepat sasaran.
"Hal ini agar subsidi tidak dinikmati kelompok yang sebenarnya mampu," tutup Abra.***
Artikel Terkait
Ekonomi Lebaran 2026 Melejit, Perputaran Uang Tunai Tembus Rp1.370 Triliun
2026 Pasca Lebaran: IHSG Terjegal Krisis Hormuz, Risiko Stagflasi Mengintai Pasar Keuangan
Minyak Dunia Tembus 116 Dolar AS, APBN 2026 Terancam Beban Subsidi
Kadin Gorontalo: Penahanan Harga BBM April 2026 Jadi Napas Lega bagi Petani dan Nelayan
Strategi IFG Perkuat Ekosistem Asuransi Nasional Melalui Konsolidasi Bisnis di Tengah Ketidakpastian Pasar Global