REDAKSI88.com – Pasar keuangan Indonesia mengalami volatilitas tinggi pada pekan pertama pasca libur Lebaran pada 23 hingga 27 Maret 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah berada di bawah tekanan hebat akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya blokade di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup pada level 7.097,057 pada Jumat (27/3/2026), terkoreksi tipis 0,14 persen secara mingguan.
Meski sempat melonjak ke posisi 7.302,12 pada hari pertama perdagangan (25/3), aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp1,76 triliun menyeret indeks kembali ke zona merah.
Baca Juga: Ekonomi Lebaran 2026 Melejit, Perputaran Uang Tunai Tembus Rp1.370 Triliun
Sementara itu, Rupiah terus tertahan di level lemah pada rentang Rp16.850 – Rp16.997 per dolar AS.
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai bahwa kondisi ini merupakan dampak dari supply shock nyata yang mengancam struktur APBN Indonesia.
"Rebound IHSG pada 25 Maret lalu hanyalah euforia likuiditas domestik yang bersifat sementara. Realitas pahitnya adalah Indonesia sedang menghadapi perfect storm.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memukul Indonesia tepat di titik lemahnya: ketergantungan pada impor BBM," ujar Kusfiardi dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Kusfiardi menyoroti bahwa harga minyak Brent yang menyentuh US$112 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp10,3 triliun untuk setiap kenaikan US$1.
Baca Juga: Banjir Sumatra Tak Ancam Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Siapkan Cadangan Pembiayaan
Kondisi ini memperbesar risiko stagflasi di kuartal II-2026, di mana pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi melonjak akibat biaya logistik dan energi.
"Jika krisis Hormuz berkepanjangan hingga pertengahan tahun, investor harus bersiap menghadapi koreksi tambahan pada IHSG sebesar 8% hingga 15%," tambahnya.Menghadapi ketidakpastian ini, para pelaku pasar disarankan menerapkan strategi ultra-defensif.
Langkah yang direkomendasikan antara lain menjaga selektivitas sektor dengan menghindari properti dan otomotif, mengalihkan eksposur ke saham perbankan besar (Big Caps) yang likuid, serta mempertimbangkan emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging).