Redaksi88.com – Fitur pembuat gambar terbaru ChatGPT-4o, yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar bergaya Studio Ghibli, memicu kontroversi terkait pelanggaran hak cipta.
Meski Studio Ghibli belum mengambil tindakan hukum, para ahli menyatakan mereka memiliki dasar kuat untuk menggugat OpenAI.
Rob Rosenberg, pakar hukum AI dari Showtime, menjelaskan bahwa Studio Ghibli dapat memanfaatkan undang-undang hak cipta AS untuk menuntut OpenAI atas dugaan pelanggaran hak cipta dan praktik promosi yang menyesatkan.
"Di sini, Ghibli bisa menggunakan undang-undang tersebut untuk menunjukkan bahwa OpenAI telah melakukan praktik promosi palsu, pelanggaran hak cipta, dan kompetisi yang tidak adil," ujar Rob, dikutip pada Jumat, 4 April 2025.
Di AS, terdapat The Lanham Act, sebuah undang-undang yang bisa digunakan untuk menuntut perusahaan yang memakai elemen merek dagang tanpa izin.
Dalam kasus ini, Ghibli dapat berargumen bahwa:
- OpenAI menggunakan ciri khas Ghibli tanpa izin resmi.
- OpenAI menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna, seolah fitur ini didukung oleh Ghibli.
- Reputasi Ghibli berpotensi rusak karena fitur ini dipakai secara luas tanpa persetujuan mereka.
Rob menambahkan bahwa penggunaan AI untuk meniru gaya seni unik dapat dianggap sebagai eksploitasi tanpa kompensasi kepada pemilik aslinya.
Baca Juga: Almarhum Ray Sahetapy Disalatkan di Masjid Istiqlal, Ini Alasan Keluarga Pilih Masjid Istiqlal
"Ghibli bisa saja berargumen bahwa dengan mengubah foto pengguna menjadi 'Gaya Ghibli', OpenAI telah mengorbankan reputasi merek dagang Ghibli lewat ChatGPT," jelasnya.
Ini bukan pertama kalinya OpenAI terancam masalah hukum terkait hak cipta.
Sebelumnya, The New York Times menggugat OpenAI karena diduga memakai artikel mereka untuk melatih ChatGPT tanpa izin.