REDAKSI88.com – Kerusuhan yang pecah di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, pada Senin, 9 Juni 2025, menjadi sorotan tajam di media sosial. Insiden ini diduga dipicu oleh kebijakan imigrasi yang dikeluarkan oleh Presiden AS saat ini, Donald Trump.
Kebijakan tersebut memicu reaksi keras dari para migran, yang merasa sangat terdampak, hingga melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di LA—kota yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas migran terbesar di Amerika.
Menurut laporan AP News, aksi demonstrasi sudah berlangsung sejak Sabtu, 7 Juni 2025. Para pengunjuk rasa memprotes razia yang dilakukan oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di sejumlah wilayah di LA.
Baca Juga: Penculikan 12 Aktivis Kemanusiaan di Kapal Bantuan Gaza oleh Militer Israel Jadi Sorotan Global
Menanggapi aksi tersebut, Trump menganggap demonstrasi itu terlalu berlebihan. Ia pun menginstruksikan Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS untuk menurunkan setidaknya 2.000 personel keamanan.
Pasukan tersebut terdiri dari aparat Kepolisian LA hingga Garda Nasional, meskipun komando Garda Nasional sejatinya berada di bawah wewenang Gubernur California.
Aksi demonstrasi kemudian berubah menjadi kerusuhan ketika terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat yang mencoba membubarkan massa.
Baca Juga: Dari Lapangan ke Isu Kemanusiaan, Roberto Mancini Serukan Perdamaian di Gaza
Situasi di LA pun memburuk, terutama karena bentrokan tersebut sebagian besar melibatkan migran dari luar negeri yang menjadi sasaran utama razia.
Kebijakan Trump yang tidak hanya memerintahkan razia, tetapi juga mengerahkan pasukan militer untuk meredam demonstrasi, mendapat kecaman keras dari Gubernur California, Gavin Newsom.
Newsom menyatakan bahwa keputusan tersebut justru memperparah keadaan.
"Saya secara resmi meminta Pemerintahan Trump membatalkan pengerahan pasukan yang melanggar hukum di daerah Los Angeles dan mengembalikan area ini ke komando saya," kata Newsom melalui laman X, dikutip pada Senin, 9 Juni 2025.
Dalam surat resminya kepada pemerintah federal, Newsom menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara bagian California. Ia juga menuduh Trump dengan sengaja memprovokasi situasi.