REDAKSI88.com– Dunia internasional tengah ramai membahas pertemuan antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS, Donald Trump, di Gedung Putih, Washington, D.C.
Dalam pertemuan pada Rabu, 5 Februari 2025, Trump mencetuskan gagasan untuk merelokasi warga Gaza secara permanen dari tanah air mereka yang kini hancur akibat perang.
"AS mendukung relokasi warga Palestina di Jalur Gaza dengan mengatakan AS mendukung relokasi Gaza secara permanen," ujar Trump dalam pernyataannya.
Pernyataan itu dianggap melampaui gagasan sebelumnya yang telah ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin negara Arab terkait konflik di Gaza.
Baca Juga: Trump Berencana Membangun Kembali Gaza, Akan Jadi Mar-A-Lago' Versi Timur Tengah?
"Anda tidak bisa tinggal di Gaza sekarang, Anda memerlukan lokasi lainnya, permasalahan di Gaza tidak akan pernah selesai," tegas Trump di hadapan Netanyahu.
Al Jazeera melaporkan bahwa Trump dan penasihat utamanya memperkirakan rekonstruksi Gaza membutuhkan waktu antara 3 hingga 5 tahun.
Namun, dalam perjanjian gencatan senjata sementara, skenario rekonstruksi Gaza dianggap sulit untuk diwujudkan dalam kondisi saat ini.
"Rekonstruksi Gaza itu tercantum dalam perjanjian gencatan senjata sementara, 'tidak dapat dilaksanakan'," terang Al Jazeera dalam laporannya pada 5 Februari 2025.
Sementara itu, negara-negara seperti Mesir dan Yordania dengan tegas menolak gagasan Trump untuk merelokasi 2,3 juta warga Gaza ke wilayah lain.
Meski menghadapi penolakan keras, sejumlah pejabat senior pemerintahan Trump terus menekankan pentingnya relokasi warga Palestina dengan alasan kemanusiaan.
Dalam pernyataannya, Trump mengaku heran dengan penolakan warga Palestina terhadap rencana relokasi yang digagas pemerintahannya.
"Saya tidak berpikir orang-orang harus kembali ke Gaza. Mengapa mereka ingin kembali? Tempat itu seperti neraka," ujar Presiden AS itu.