Pernyataan tersebut merupakan kedua kalinya dalam sepekan terakhir Trump mengusulkan agar warga Palestina meninggalkan Gaza.
Usulannya menuai kritik dari berbagai pihak di dunia, sementara warga Palestina menanggapinya dengan ketidakpercayaan dan kemarahan.
Meski menghadapi tekanan dari AS, warga Palestina dengan tegas menolak gagasan relokasi dan tetap bertahan di tanah air mereka.
Baca Juga: Menko AHY Soroti Kecelakaan Maut di Gerbang Tol Ciawi, Ingatkan Keselamatan dan Evaluasi Kesalahan
Warga Palestina: Gaza Adalah Tanah Air Kami
Dilansir dari AP News, lebih dari setengah juta warga Palestina telah kembali ke Gaza Utara dalam sepekan terakhir meskipun kondisinya masih porak-poranda.
Mereka menghadapi keterbatasan air bersih, ketiadaan listrik, dan puing-puing bangunan yang menghalangi ruang untuk mendirikan tempat tinggal sementara.
Namun, warga Palestina bertekad untuk tetap tinggal dan membangun kembali kehidupan mereka, meski Trump mengusulkan agar mereka meninggalkan Gaza.
Salah satu warga Palestina, Amir Karaja, menegaskan bahwa dirinya "lebih baik memakan puing-puing" daripada dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya.
"Kami teguh di sini," ujar Karaja saat berusaha memperbaiki sisa rumahnya di kamp Nuseirat, Gaza tengah, pascaperang yang menghancurkan wilayah tersebut.
Baca Juga: Sebelum Lepaskan Tembakan, Mendagri Malaysia Ungkap APMM Sudah Memberikan Peringatan Sesuai Prosedur
Meski Rusak Akibat Perang, Kami Tetap Bertahan
Warga Gaza lainnya, Iyam Jahjouh, juga menyatakan bahwa dirinya tidak akan mempertimbangkan untuk meninggalkan tanah dan rumahnya meskipun kondisi sangat sulit.
"Kami tidak akan meninggalkan tanah atau rumah kami, meskipun ada kerusakan besar dan semua yang terjadi di Gaza, kami di sini dan akan tetap di sini," tegasnya.
Menurut laporan AP News, rumah Iyam mengalami kerusakan parah dengan atap dan beberapa dinding yang hancur akibat perang berkepanjangan.
Kini, ia hanya tinggal di satu ruangan kecil dengan atap darurat yang nyaris tak mampu melindungi dari cuaca ekstrem di Gaza.
"Mengapa saya harus meninggalkan negara saya? Anda ingin mengirim saya ke Mesir atau Yordania?" ujar Iyam dengan nada penuh keteguhan.