REDAKSI88.com– Rencana Amerika Serikat (AS) untuk merelokasi warga Gaza ke luar Palestina telah memicu kontroversi global.
Gagasan yang didukung Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ini mendapat penolakan keras dari berbagai negara, termasuk China, Yordania, dan Indonesia.
Dalam pertemuan di Gedung Putih pada 5 Februari 2025, Trump menyatakan bahwa AS mendukung relokasi Gaza secara permanen.
"Saya tidak berpikir orang-orang harus kembali ke Gaza. Mengapa mereka ingin kembali? Tempat itu seperti neraka," ujar Trump, seperti dikutip dari Reuters.
Sebelumnya, Trump bersikeras bahwa Mesir dan Yordania akan menerima warga Gaza yang direlokasi, meskipun kedua negara telah menolak gagasan tersebut.
Baca Juga: AS Rencanakan Relokasi Gaza, Warga Palestina Teguh Bertahan di Tanah Air Meski Hancur Akibat Perang
"Kami telah melakukan banyak hal untuk mereka (Mesir dan Yordania), dan mereka akan melakukannya," tandas Trump, seperti dilansir Times of Israel.
Namun, rencana relokasi ini justru menuai kecaman internasional dan penolakan dari warga Palestina sendiri.
Dilansir AP News, lebih dari setengah juta warga Palestina telah kembali ke Gaza Utara dalam sepekan terakhir, meskipun kondisi di sana sangat buruk.
Salah satu warga Gaza, Amir Karaja, menegaskan tekadnya untuk bertahan di tanah airnya, meskipun harus menghadapi reruntuhan.
Baca Juga: Trump Berencana Membangun Kembali Gaza, Akan Jadi Mar-A-Lago' Versi Timur Tengah?
"Kami teguh di sini. Ini tanah kami, dan kami pemiliknya yang sah. Tidak ada Trump atau siapa pun yang bisa mencabut kami dari Gaza," kata Karaja.
Seiring dengan penolakan keras dari warga Palestina, beberapa negara besar juga menentang rencana relokasi ini.
China: Menolak Pemindahan Paksa Warga Gaza
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa pemerintahnya menentang pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza.