Aktivitas Tambang di Raja Ampat Tuai Sorotan Publik, Wilayah yang Dikenal Punya Hasil Bumi Melimpah Sejak Dulu

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Rabu, 11 Juni 2025 | 07:00 WIB
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (tengah) saat jumpa pers terkait pencabutan izin tambang terhadap 4 perusahaan di Raja Ampat. (Dok. Sekretariat Presiden)
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (tengah) saat jumpa pers terkait pencabutan izin tambang terhadap 4 perusahaan di Raja Ampat. (Dok. Sekretariat Presiden)

Redaksi88.com – Aktivitas pertambangan nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya, kini menjadi sorotan sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Perhatian publik ini muncul setelah Presiden RI, Prabowo Subianto, menginstruksikan jajarannya untuk melakukan peninjauan langsung ke lokasi tambang di wilayah tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa pemerintah telah mencabut empat izin usaha pertambangan (IUP) dari empat perusahaan. 

Baca Juga: Kasus Dugaan Korupsi Laptop Chromebook Rp9,9 Triliun, Nadiem Makarim Siap Kooperatif

Keputusan ini, menurutnya, turut mempertimbangkan masukan dari tokoh masyarakat setempat.

“Dalam rapat kami, kita minta aspirasi dari tokoh-tokoh masyarakat, apa sesungguhnya yang terjadi dan mereka meminta agar tolong dipertimbangkan empat IUP yang masuk dalam kawasan Geopark,” ungkap Bahlil dalam jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 10 Juni 2025.

Pencabutan dilakukan terhadap empat IUP yang berada di luar Pulau Gag, yaitu PT Nurham, PT Anugrah Surya Pertama, PT Kawei Sejahtera Mining, dan PT Mulia Raymond Perkasa. 

Baca Juga: Begini Reaksi Warganet setelah Pemerintah Kucurkan Dana Rp277 Miliar dari APBN untuk Timnas Indonesia

Berkaca dari hal itu, Raja Ampat memang sejak dulu dikenal sebagai lokasi 'harta karun' dari hasil bumi yang potensial, mulai dari rempah-rempah, perkebunan, hingga perikanan.

Antropolog Leonard Y. Andaya dalam riset berjudul The World of Maluku (1993) mengisahkan, selama masa Kesultanan Tidore atas Raja Ampat, kekuasaannya memanfaatkan wilayah tersebut untuk meraih kekayaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Tidore kemudian menjadikan sektor perikanan dan rempah-rempah sebagai komoditas utama ekspor. 

Baca Juga: Kakek Tiri di Bengkulu Utara Cabuli Cucu Selama Tiga Tahun, Ditangkap Polisi

Dari sini, diketahui 'harta karun' di Raja Ampat tetap dimanfaatkan oleh Tidore dan warga lokal Papua. 

Menurut riset Ekspedisi Tanah Papua (2008), kesultanan Tidore hanya mengambil serba sedikit dari apa yang disediakan alam.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X