Sritex: Jejak Kejayaan, Kontroversi, dan Kejatuhan di Tengah Guncangan Global

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Kamis, 24 Oktober 2024 | 14:09 WIB
PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau Sritex.  (Instagram.com/sritexindonesia)
PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau Sritex. (Instagram.com/sritexindonesia)

Pandemi juga diperburuk oleh konflik geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina, yang mengakibatkan harga bahan baku melonjak dan gangguan logistik semakin parah.

Tidak hanya itu, kebijakan dumping oleh China juga menambah tekanan pada Sritex.

Produk-produk tekstil murah dari Tiongkok yang membanjiri pasar Indonesia membuat produsen lokal seperti Sritex kesulitan bersaing, memaksa mereka mencari solusi untuk bertahan.

Meski telah melakukan berbagai langkah restrukturisasi, tekanan finansial akibat utang yang besar dan penurunan penjualan membuat Sritex semakin terpuruk.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Alasan Kemahkan Para Menteri di Akmil Magelang: Kerja Sama Tim dan Keberanian Sangat Penting

Sritex pernah menjadi bintang dalam lanskap industri global, dengan jejak digital yang dipenuhi pemberitaan positif mengenai kontrak-kontrak besar, inovasi produk, dan ekspansi internasionalnya.

Perusahaan ini kerap disorot media internasional sebagai contoh sukses perusahaan Asia yang mampu bersaing di pasar global.

Namun, jejak digital Sritex mulai berubah setelah mereka mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada tahun 2021, yang menjadi awal dari pemberitaan negatif terkait kondisi keuangan perusahaan.

Keputusan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga Semarang pada tahun 2024 menandai titik balik dari pemberitaan Sritex, di mana narasi kebangkrutan dan dampak sosial bagi ribuan karyawan mulai mendominasi media.

Baca Juga: Rapat Kabinet Perdana, Prabowo Minta Para Menteri Kurangi Acara Seremonial dan Perjalanan Luar Negeri

Dalam jejak digitalnya, banyak media ekonomi dan bisnis menyoroti masalah manajemen utang yang tidak terkendali, kurangnya inovasi dalam menghadapi perubahan pasar, serta ketidakmampuan manajemen untuk menavigasi tantangan global seperti krisis rantai pasok dan kebijakan dumping.

Kejatuhan dan Dampaknya

Pada tahun 2024, keputusan Pengadilan Negeri Niaga Semarang yang menyatakan Sritex pailit menjadi babak akhir dari perjalanan panjang perusahaan ini.

Ribuan karyawan harus kehilangan pekerjaan, sementara investor mengalami kerugian besar akibat nilai saham perusahaan yang anjlok.

Kebangkrutan Sritex menjadi pengingat keras bagi dunia bisnis di Indonesia tentang pentingnya manajemen risiko yang solid, terutama di sektor manufaktur yang sangat rentan terhadap dinamika global.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X