Redaksi88.com – Ketegangan yang terus meningkat dalam konflik peperangan antara Iran vs Israel memicu kekhawatiran sebagian publik internasional akan potensi terjadinya Perang Dunia ke-3.
Hingga kini, aksi saling serang dengan rudal masih berlangsung antara kedua negara. Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan kapal perang dan jet tempurnya ke wilayah sekitar Timur Tengah sejak pecahnya konflik Iran vs Israel pada 13 Juni 2025 lalu.
Langkah tersebut diambil menyusul kemungkinan AS akan turut membantu Israel untuk menyerang Iran.
Menanggapi situasi ini, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut menyoroti konflik perang antara Iran dan Israel yang menyebut dunia kini terancam berada di ambang malapetaka.
"Saat ini, situasi di Timur Tengah semakin berbahaya. Jika Perang Iran-Israel menjadi out of control (tidak terkendali), dunia benar-benar di ambang malapetaka," kata SBY melalui akun X @SBYudhoyono yang diposting pada Kamis, 19 Juni 2025.
SBY kemudian menyebut sejumlah tokoh kunci yang dinilainya sangat berpengaruh untuk 'mendinginkan suasana' konflik Iran vs Israel. Para tokoh itu termasuk Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping.
"Masa depan dunia, dari sisi perdamaian dan keamanan, ke depan ini akan ditentukan oleh lima orang kuat (strong men). Yang pertama dan kedua adalah Benjamin Netanyahu dan Ali Khamenei. Sedangkan yang ketiga, keempat dan kelima (yang lebih kuat lagi) adalah Donald Trump, Vladimir Putin dan Xi Jinping," sebutnya.
Tokoh kelahiran Pacitan, Jawa Timur itu menuturkan ego sentral dari para pemimpin dunia itu kini perlu ditahan. Sebab, bila salah perhitungan bisa saja membuat kehancuran di mana-mana.
"Semoga kelima pemimpin tersebut oleh Tuhan diberikan kearifan jiwa dan kejernihan pikiran dalam mengambil keputusan dan tindakan. Jangan ada salah keputusan dan “miscalculation” (salah hitung)," terang SBY.
"Kalau gegabah dan salah, akan menimbulkan kematian dan kehancuran yang dahsyat di banyak bangsa dan negara," imbuhnya.
Berkaca dari hal itu, sebelumnya saling ancam pun memang telah diutarakan oleh kedua negara di Timur Tengah itu.