Redaksi88.com – Kasus keracunan massal akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) masih terus menjadi sorotan publik hingga Kamis, 25 September 2025.
Jumlah korban yang menembus lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah membuat sejumlah otoritas kesehatan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Ironisnya, ribuan siswa jatuh sakit setelah menyantap makanan yang sejatinya disiapkan untuk meningkatkan gizi mereka.
Di lapangan, masalah tidak berhenti pada korban. Program MBG yang awalnya digadang sebagai solusi perbaikan gizi, justru memicu efek domino terhadap kantin sekolah.
Banyak kantin kini sepi pembeli, bahkan sebagian terancam gulung tikar karena siswa lebih diarahkan untuk mengonsumsi makanan gratis dari dapur MBG.
Kritik terhadap pola distribusi MBG pun makin tajam. Beberapa daerah mengakui makanan dimasak sejak malam dan baru tiba di tangan siswa pada siang keesokan harinya.
Alur panjang ini membuka celah pertumbuhan bakteri, terutama jika standar operasional prosedur (SOP) tidak dijalankan secara ketat.
Kondisi tersebut mendapat sorotan para ahli, salah satunya Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K).
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan aspek keamanan pangan.
Menurutnya, kantin sekolah justru bisa menjadi solusi realistis agar makanan lebih segar dan aman.
“Jadi memang sebetulnya kalau idealnya nih kenapa nggak menghidupkan kantin-kantin sekolah yang sudah ada. Jadi ini tentu akan praktis makanannya bisa masih hangat pada saat siang hari,” kata dr. Piprim dalam webinar resmi IDAI, Kamis, 25 September 2025.
Lantas, bagaimana pandangan para ahli kesehatan terhadap fenomena keracunan massal baru-baru ini? Berikut ulasan selengkapnya.