Redaksi88.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul temuan bahwa susu kemasan yang dibagikan kepada penerima manfaat hanya mengandung sekitar 30 persen susu segar.
Produk tersebut merupakan hasil produksi internal dengan merek Susu Sekolah yang dikemas dalam ukuran 125 mililiter.
Hal itu kemudian memunculkan dugaan adanya manipulasi dalam pelaksanaan MBG, terutama pada menu susu, serta mempertanyakan alasan tidak digunakannya susu segar sepenuhnya.
Baca Juga: Gaya Komunikasi Menkeu Purbaya Jadi Sorotan DPR, Ingatkan Tak Komentari Kebijakan Kementerian Lain
Kandungan Susu MBG Setara Susu Segar dan Sesuai BPOM
Pihak Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim bahwa formulasi susu MBG telah disusun berdasarkan standar gizi susu cair penuh (full cream milk) sebagaimana diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2023.
Dengan demikian, anak-anak penerima program disebut tetap mendapatkan manfaat gizi yang optimal.
“Walau belum 100 persen menggunakan susu segar lokal, kandungan gizi susu MBG, mulai dari protein, kalsium, hingga vitamin D dibuat setara dengan susu segar,” ujar Tim Pakar Bidang Susu BGN, Epi Taufik, dalam keterangannya pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Baca Juga: Renovasi Ponpes Al Khoziny Pakai APBN Tuai Polemik, Cak Imin Tantang Pengkritik Beri Solusi
“Anak-anak tetap dapat energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan belajar,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Epi juga menjelaskan bahwa kandungan kalsium dalam susu MBG tidak kurang dari kebutuhan harian anak-anak.
“Kandungan kalsium tidak kurang dari 15 persen daily value, kadar lemak tidak kurang dari 3 persen, kadar protein tidak kurang dari 2,7 persen, dan kadar karbohidrat serta mineral tidak kurang dari 7,8 persen,” jelasnya.
“Jadi, bukan berarti jika susu segarnya 20 persen lalu sisanya semua air,” tambahnya.
Konsumsi Susu Nasional Meningkat Setelah Ada MBG
Kebutuhan susu nasional, kata Epi makin meningkat sejak pemerintah menggalakkan program MBG.