Redaksi88.com – Isu mengenai kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi tengah menjadi perhatian khusus maasyarakat.
Namun, pemerintah memastikan bahwa suku bunga KPR bersubsidi melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap berada di angka 5 persen.
Kepastian ini menjadi kabar baik bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang masih berupaya mewujudkan impian memiliki rumah sendiri di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Modus Transaksi COD Mobil Berujung Penyekapan di Tangsel: Korban Disiksa, 3 Pelaku Diciduk Polisi
Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, usai berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Menteri Keuangan atas dukungannya dengan tidak menaikkan bunga untuk rumah subsidi, sehingga bunga rumah subsidi tetap 5 persen,” kata Maruarar, atau yang akrab disapa Ara, di Jakarta pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Kepastian Bunga di Tengah Tekanan Ekonomi
Stabilnya suku bunga KPR subsidi dinilai sebagai langkah penting untuk menjaga daya beli masyarakat di sektor perumahan.
Pasalnya, dinamika ekonomi global yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir sempat memicu kekhawatiran akan adanya penyesuaian bunga yang berpotensi memberatkan konsumen.
Ara meenilai, kebijakaan untuk menahan bunga di level 5 persen merupakan wujud nyata keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat kecil, khususnya bagi mereka yang baru pertama kali membeli rumah.
“Pemerintah ingin memastikan agar MBR tetap punya akses terhadap hunian yang layak, tanpa terbebani kenaikan bunga,” ujarnya.
Kuota dan Program Perbaikan Rumah Ditingkatkan
Tak hanya menjaga kestabilan bunga, pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan dengan meningkatkan alokasi rumah bersubsidi dan program renovasi rumah tidak layak huni.
Tahun depan, kuota pembiayaan FLPP ditetapkan untuk 350.000 unit rumah, sementara program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) akan diperluas secara signifikan.