Redaksi88.com – Pemerintah menargetkan program Bantuan Sosial (Bansos) Digital akan diluncurkan secara nasional pada Mei 2026.
Namun, keputusan final mengenai peluncuran tersebut masih menunggu hasil evaluasi dari uji coba yang telah dilakukan di Kabupaten Banyuwangi sejak September lalu.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin terburu-buru memperluas penerapan program sebelum memastikan sistem digitalisasi bansos benar-benar siap dan berjalan efektif.
“Saya rapat dulu minggu depan, tanggal 18, mendengarkan evaluasi dari hasil uji coba di Banyuwangi. Kita harus betul-betul melakukan studi yang baik. Nanti saya dengarkan laporannya,” ujar Luhut kepada awak media di Jakarta, Kamis, 16 Oktober 2025.
Baca Juga: Sebut Belum Ada Tersangka, KPK Tegaskan Tak Ada Intervensi Polisi dalam Kasus Kuota Haji
Uji Coba di Banyuwangi Libatkan 300 Ribu Peserta
Menurut Luhut, pelaksanaan uji coba Bansos Digital di Banyuwangi melibatkan sekitar 255 hingga 300 ribu peserta. Dari hasil sementara, pemerintah menemukan beberapa kekurangan di lapangan, namun masih dalam batas yang bisa ditangani.
“Pelaksanaan kemarin hampir 300 ribu peserta. Laporan sementara yang saya terima, memang ada kekurangan di sana-sini, tapi masih bisa kita kelola,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil evaluasi nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, apakah uji coba perlu diperluas ke beberapa kabupaten lain atau langsung naik ke tingkat provinsi.
Baca Juga: Rosan Roeslani Yakin Target Ekonomi 8 Persen Tercapai, Sebut Investasi Jadi Kunci
Jika hasil evaluasi menunjukkan perkembangan positif, pemerintah berencana meluncurkan program Bansos Digital secara nasional bersama Presiden Prabowo Subianto dan Bank Dunia (World Bank).
“Saya usul presiden untuk (peluncuran) bulan Maret, April, atau Mei. Kita akan launching secara nasional bersama bapak presiden dan World Bank. Itu akan membawa reputasi Indonesia semakin baik,” ungkap Luhut.
Digarap Anak Muda, Tanpa Dana Asing
Luhut juga menegaskan bahwa seluruh sistem digitalisasi bansos ini sepenuhnya dikembangkan oleh anak muda Indonesia, tanpa pendanaan dari luar negeri.
Teknologi tersebut bahkan melibatkan kolaborasi dari berbagai universitas ternama di Tanah Air, seperti ITB, UI, dan UGM.