Melihat Visi Baru Prabowo untuk BUMN: Efisiensi Nasional dengan Sentuhan Talenta Asing

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Jumat, 17 Oktober 2025 | 15:10 WIB
Presiden Prabowo menyebut akan memangkas jumlah BUMN dan membuka peluang kepemimpinan talenta asing di tubuh BUMN.  (Instagram.com/@prabowo)
Presiden Prabowo menyebut akan memangkas jumlah BUMN dan membuka peluang kepemimpinan talenta asing di tubuh BUMN. (Instagram.com/@prabowo)

Redaksi88.com – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan arah baru kebijakan dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dalam pidatonya di ajang Forbes Global CEO Conference yang digelar di Jakarta Selatan, Rabu, 15 Oktober 2025, Prabowo menyroti perlunya reformasi menyeluruh terhadap BUMN. 

Presiden RI itu menyebut perlu melakukan efisiensi kelembagaan hingga keterbukaan terhadap talenta global.

Lantas, apa saja hal yang menjadi sorotan utama Presiden Prabowo dalam tubuh BUMN? Berikut ulasannya:  

Baca Juga: Kejari Bandar Lampung Serahkan Tersangka dan Barang Bukti Kasus Korupsi Retribusi Pasar Gudang Lelang

1. WNA Bisa Pimpin BUMN

Salah satu kebijakan paling menonjol yang disampaikan Prabowo adalah diperbolehkannya warga negara asing (WNA) atau ekspatriat memimpin perusahaan BUMN.

Prabowo menyebut, regulasi yang sebelumnya mewajibkan posisi pimpinan BUMN diisi oleh warga negara Indonesia (WNI) kini telah diubah.

“Saya telah mengubah regulasi. Sekarang ekspatriat, non-Indonesia, bisa memimpin BUMN kita,” ujar Prabowo.

Ia menilai langkah tersebut penting untuk membawa BUMN sejajar dengan standar bisnis internasional. 

Baca Juga: Dugaan Korupsi di Dinkes Bengkulu Utara, Kejari Periksa Sejumlah Kepala Puskesmas

Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan membuka peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan keahlian terbaik di bidang manajemen korporasi.

“Saya sudah mengatakan kepada manajemen Danantara agar menjalankan BUMN dengan standar bisnis internasional. Anda bisa mencari otak terbaik, talenta terbaik,” tambahnya.

2. Pemangkasan Jumlah BUMN

Selain membuka pintu bagi talenta asing, Prabowo juga menyoroti perlunya rasionalisasi jumlah BUMN.

Menurutnya, saat ini Indonesia memiliki lebih dari 1.000 BUMN, termasuk anak dan cucu perusahaan. Jumlah tersebut dinilai terlalu besar dan berpotensi menghambat kinerja serta produktivitas.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X