Analis Politik Hensa Sarankan Prabowo Intens Komunikasi Lewat Media, Bukan Influencer, untuk Redakan Kegelisahan Publik

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Senin, 1 September 2025 | 11:19 WIB
Hendsa menilai Prabowo perlu intensif bicara ke media massa agar publik tenang dan pemerintah tak jauh dari rakyat.  (Foto: Tangkapan layar YouTube/Jangkrik Bos Ala Hensa)
Hendsa menilai Prabowo perlu intensif bicara ke media massa agar publik tenang dan pemerintah tak jauh dari rakyat. (Foto: Tangkapan layar YouTube/Jangkrik Bos Ala Hensa)

Redaksi88.com – Analis komunikasi politik sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKopi, Dr. Hendri Satrio atau Hensa, menilai Presiden Prabowo Subianto sebaiknya lebih sering berbicara langsung melalui media massa ketimbang mengandalkan influencer untuk meredakan kegelisahan publik.

Menurut Hensa, media masih memegang peranan penting sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. 

Ia meyakini, komunikasi yang intens akan membuat pesan pemerintah lebih mudah dipahami rakyat.

Baca Juga: Industri Mamin RI Tembus Pasar Afrika, Ekspor Biskuit hingga Pantai Gading

“Saya ngajuin dua lah solusinya. Jadi yang pertama, Pak Prabowo mesti berkomunikasi dengan intens kepada para jurnalis di media massa karena dengan kondisi saat ini, media massa lah yang bisa menenangkan masyarakat ya, menenangkan rakyat,” ujarnya dalam sebuah wawancara, dikutip dari AboutMalang.com, Minggu (31/8/2025).

Hensa juga menyinggung bahwa sejak era Presiden Joko Widodo hingga kini, media kerap terpinggirkan dari lingkaran kekuasaan, padahal memiliki peran strategis dalam menjembatani pemerintah dengan rakyat.

“Dan ya ini jadi pengalaman tersendiri sih. Selama ini kan memang penguasa ya dari zaman Pak Jokowi kemudian sekarang diteruskan ke Pak Prabowo, seolah-olah seperti melupakan media massa sebagai kekuatan,” tambahnya.

Baca Juga: Prabowo Pastikan Pemeriksaan Kasus Brimob Cepat dan Transparan

Selain itu, Ia menekankan bahwa keterbukaan komunikasi dengan media menjadi kunci penting untuk meredakan ketegangan publik sekaligus menjaga legitimasi kepemimpinan nasional.

Pandangan tersebut sejalan dengan survei Indonesian Presidential Studies (IPS) UGM pada 2022. 

Hasil survei menunjukkan 74,4 persen masyarakat masih lebih percaya pada media formal seperti televisi, radio, dan surat kabar, jauh lebih tinggi dibandingkan media sosial yang hanya meraih tingkat kepercayaan 12,7 persen.***

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X