Mengenal Tradisi Tabuik di Pariaman, Ini Sejarahnya

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Minggu, 29 September 2024 | 10:13 WIB
Mengenal Tradisi Tabuik di Pariaman, Ini Sejarahnya.   (Foto/Wikipedia)
Mengenal Tradisi Tabuik di Pariaman, Ini Sejarahnya. (Foto/Wikipedia)

Redaksi88.com- Tabuik adalah sebuah tradisi tahunan yang laksanakan masyarakat di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Peringatan ini dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 1-10 Muharram dalam kalender Islam.

Tabuik di Pariaman memiliki dua jenis yakni, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

Apa itu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang?

Tabuik Pasa berasal dari wilayah selatan sungai di Pariaman, Tabuik Pasa dianggap sebagai cikal bakal tradisi Tabuik. Prosesi Tabuik Pasa biasanya dimulai di daerah Pasa dan berakhir di Pantai Gandoriah.

Sedangkan Tabuik Subarang berasal dari wilayah utara sungai di Pariaman, Tabuik Subarang sering disebut dengan Kampung Jawa. Prosesi Tabuik Subarang memiliki rute yang berbeda dengan Tabuik Pasa.

Namun begitu, secara umum, baik Tabuik Pasa maupun Tabuik Subarang memiliki kesamaan dalam bentuk dan makna simbolisnya. Kedua Tabuik ini memiliki kelompok penyelenggara dan prosesi yang sedikit berbeda.

Tradisi Tabuik ini berupa perayaan yang dilakukan dengan pembuatan bangunan menyerupai menara atau keranda yang merupakan replika burak.

Bangunan yang menyerupai menara atau keranda tersebut sebelumnya diarak mengelilingi kota Pariaman dan prosesi akhirnya dilarung ke laut.

Sejarah Tabuik Pariaman

Peringatan Tabuik di Pariaman diperkirakan mulai sekitar abad ke-19 Masehi. Tradisi Tabuik ini merupakan representasi peringatan atas wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Husain bin Ali, dalam Perang Karbala.

Tradisi Tabuik di Pariaman sendiri diperkenalkan oleh pasukan Tamil Muslim Syiah dari India yang ditempatkan di daerah itu pada masa penjajahan Inggris.

Tradisi Tabuik merupakan perpaduan antara keyakinan Islam Syiah dan adat istiadat Minangkabau. Perayaan ini berkaitan erat dengan peristiwa bersejarah di Karbala.

Peristiwa gugurnya Imam Husain cucu Nabi Muhammad, di Pariaman, tradisi ini menjadi cara masyarakat untuk mengenang dan menghormati perjuangan Imam Husain.

Kendati tidak ada kewajiban mutlak dalam Islam untuk melaksanakan tradisi Tabuik. Pelaksanaan tradisi ini lebih bersifat lokal dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pariaman.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Sumber: Berbagai Sumber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X