Warisan Sejarah, Wisata di Trans Kolonial Kemumu Bengkulu Utara

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Kamis, 10 Oktober 2024 | 13:45 WIB
Warisan Sejarah, Wisata di Trans Kolonial Kemumu Bengkulu Utara.   (Foto/Jadesta)
Warisan Sejarah, Wisata di Trans Kolonial Kemumu Bengkulu Utara. (Foto/Jadesta)

 

Redaksi88.com- Desa Sido Mulyo, pada periode 1935 hingga 1954 dikenal sebagai warisan sejarah Trans Kolonial, merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya berasal dari Jawa Tengah.

Pada masa itu, desa ini masih berada di bawah pengelolaan marga Lais dengan kepala desa yang disebut 'depati.' Pada tahun 1954, desa ini mulai dipimpin oleh kepala desa bernama Matyasir.

Nama desanya kemudian berubah menjadi Desa Kemumu pada tahun 1972. Nama 'Kemumu' sendiri merujuk pada tanaman keladi atau talas, yang banyak ditemukan di daerah tersebut.

Kemumu, terletak di sebelah timur Kecamatan Kota Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu dengan luas wilayah 815 hektar.

Baca Juga: Bengkulu Kota Unik Kaya Kultur Budaya yang Khas

Kemudian, pada bulan April 1981, Desa Kemumu secara resmi ditingkatkan statusnya menjadi Kelurahan Kemumu Bengkulu Utara.

Peninggalan fisik Kolonial menjadi destinasi wisata populer

Di Kelurahan Kemumu, terdapat beberapa peninggalan fisik dari zaman kolonial Belanda yang masih ada dan menjadi daya tarik wisata. Salah satu yang paling menonjol adalah bendungan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1901.

Bendungan ini dibangun sebagai bagian dari infrastruktur irigasi oleh pemerintah kolonial untuk mendukung pengembangan pertanian di wilayah tersebut. Bendungan ini dikenal dengan nama Palak Siring, yang kini menjadi salah satu objek wisata populer di Kemumu.

Selain bendungan, terdapat pula air terjun Palak Siring yang sering disebut dalam kaitannya dengan sejarah kolonial, meskipun pembangunannya lebih terkait dengan perkembangan infrastruktur desa di masa lalu.

Baca Juga: Tradisi Menarik Suku Dani di Lembah Baliem Papua

Kedua tempat ini, baik air terjun maupun bendungan, kini dikelola sebagai objek wisata, dan masih mempertahankan jejak-jejak sejarah masa penjajahan.

Peninggalan ini tidak hanya penting dari segi sejarah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat, yang mengelola dan memanfaatkannya sebagai daya tarik wisata.

Kehidupan masyarakat Kemumu pada masa Trans Kolonial

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Sumber: Berbagai Sumber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X