Redaksi88.com – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyoroti stok beras di gudang Perum Bulog yang dinilai perlu segera disalurkan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri, Tomsi Tohir, mengatakan jika penyaluran terus berjalan lambat, maka negara berpotensi mengalami kerugian besar
Tomsi menjelaskan, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dilakukan Bulog masih tergolong sangat rendah.
Baca Juga: Miris sekaligus Ironi, Bocah di Gowa Diduga Pungut Sisa Makanan Pejabat Usai Acara HUT ke-80 RI
Padahal, keterlambatan distribusi beras berisiko memicu kenaikan harga di pasaran.
“Kalau beras tidak disalurkan, atau disalurkan lambat, dampaknya harga beras jadi naik. Kita belum bisa menurunkannya,” ujar Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2025 yang disiarkan YouTube resmi Kemendagri, Selasa, 19 Agustus 2025.
selain itu, penundaan distribusi bukan hanya berdampak pada kenaikan harga, tetapi juga menimbulkan kerugian karena beras mudah mengalami penurunan mutu jika terlalu lama disimpan.
“Beras ini ada masa simpannya. Kalau kelamaan di gudang bisa rusak, harganya turun, bahkan harus dibuang. Itu jelas akan merugikan negara,” tegasnya.
Program SPHP sendiri berlangsung mulai Juli hingga Desember 2025 dengan target penyaluran 1,3 juta ton beras.
Artinya, Bulog harus menyalurkan sekitar 216.000 ton per bulan atau setara 7.100 ton per hari.
Namun demikian, data Bulog mencatat realisasi penyaluran baru mencapai 38.111 ton atau sekitar 2,94 persen dari target. Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan realisasi tertinggi.
Perihal itu, Tomsi menegaskan capaian tersebut jauh dari target minimal bulanan yang ditetapkan yakni 2,94 persen..
Baca Juga: Viral, Charly van Houten Bebaskan Lagunya Diputar di Kafe Tanpa Royalti, Justru Beri Hadiah