REDAKSI88.com - Serangkaian rekor suhu global terus terjadi, meskipun La Nina, yang seharusnya mendinginkan kawasan Pasifik tropis, masih berlangsung. Fenomena ini mengejutkan para ilmuwan yang sebelumnya memprediksi suhu akan menurun.
Menurut Copernicus Climate Change Service, lembaga pengamatan Bumi Uni Eropa, Januari 2025 mencatat suhu udara permukaan tertinggi dalam sejarah, meningkat 1,75°C di atas tingkat praindustri yang menjadi acuan global.
"Januari 2025 adalah bulan mengejutkan lainnya, melanjutkan tren suhu ekstrem yang terjadi selama dua tahun terakhir. Copernicus akan terus memantau suhu laut dan dampaknya terhadap perubahan iklim sepanjang tahun," kata Samantha Burgess dari European Centre for Medium-Range Weather Forecast.
Baca Juga: Tak Perlu Daftar Online, Masyarakat Bisa Langsung ke Puskesmas untuk Cek Kesehatan Gratis
Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa suhu global akan mulai mereda setelah El Niño mencapai puncaknya pada Januari 2024 dan beralih ke fase pendinginan La Niña.
Namun, kenyataannya suhu global tetap tinggi atau bahkan mendekati rekor, sehingga memicu diskusi mengenai faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap pemanasan ini secara tidak terduga.
"Inilah yang cukup mengejutkan, kita tidak melihat efek pendinginan atau setidaknya perlambatan sementara pada suhu global seperti yang diperkirakan sebelumnya," ujar Julien Nicolas, ilmuwan iklim di Copernicus, dikutip dari The Guardian.
Para ahli menegaskan bahwa setiap kenaikan suhu di atas 1,5°C dapat memperparah intensitas serta frekuensi cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan, yang bisa berdampak luas pada berbagai sektor.
Baca Juga: Bahlil Lahadalia Kembali Atur Pembelian LPG 3 Kg untuk UMKM dengan Syarat Izin Usaha
Suhu Permukaan Laut Tetap Panas
Pengamatan menunjukkan bahwa suhu permukaan laut masih sangat tinggi sepanjang 2023 dan 2024, bahkan tanpa pengaruh signifikan dari El Niño yang biasanya meningkatkan suhu lautan.
Copernicus mencatat bahwa suhu laut pada Januari 2025 merupakan yang tertinggi kedua dalam sejarah pencatatan, menunjukkan anomali pemanasan yang masih terus berlanjut hingga awal tahun ini.
"Yang membingungkan adalah mengapa suhu tetap setinggi ini," ujar Julien Nicolas, dikutip dari The Guardian, menyoroti keanehan fenomena ini yang belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan.
Baca Juga: Kang Gobang 'Preman Pensiun' Meninggal Diduga Karena Angin Duduk, Kenali Gejalanya
Para ilmuwan sepakat bahwa pembakaran bahan bakar fosil menjadi faktor utama pemanasan global jangka panjang, tetapi ada faktor lain yang menyebabkan fluktuasi suhu setiap tahun.