Sebagian ilmuwan menduga bahwa pemanasan global yang terus berlanjut dipicu oleh kombinasi antara emisi bahan bakar fosil dan variabilitas iklim alami, yang belum sepenuhnya dapat diprediksi.
Selain itu, perubahan dalam penggunaan bahan bakar pengiriman yang lebih bersih dengan mengurangi emisi sulfur berpotensi mengurangi pembentukan awan reflektif, yang biasanya berfungsi memantulkan sinar matahari dari permukaan Bumi.
Sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan pada Desember 2024 juga menyelidiki kemungkinan bahwa berkurangnya awan rendah dapat berperan dalam peningkatan suhu global yang terjadi saat ini.
Baca Juga: Harga Asli Gas Elpiji 3 Kg Tembus Rp42.750 per Tabung, Siapa yang Menanggung Selisihnya?
Namun, penelitian ini masih dalam tahap tinjauan sejawat, sehingga belum bisa dijadikan kesimpulan akhir terkait penyebab utama fenomena pemanasan ini.
"Hal ini masih menjadi bahan perdebatan," tambah Julien Nicolas, menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami tren pemanasan yang terus berlanjut.
Peningkatan Suhu di Indonesia
Fenomena kenaikan suhu global juga berdampak pada Indonesia, di mana Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya anomali suhu udara rata-rata pada Januari 2025 dengan kenaikan 0,20°C dibandingkan rata-rata sebelumnya.
Rekor ini menjadi anomali tertinggi ke-11 sejak pencatatan dimulai pada 1981, menunjukkan tren pemanasan yang semakin nyata di berbagai wilayah di Indonesia selama beberapa dekade terakhir.
Di berbagai daerah, suhu udara rata-rata per stasiun menunjukkan nilai anomali positif, yang berarti suhu lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologis yang pernah terjadi sebelumnya.
Anomali suhu tertinggi tercatat di Stasiun Geofisika Bandung – Kota Bandung, dengan peningkatan 1,2°C, sedangkan anomali terendah terjadi di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto – Samarinda, dengan penurunan -0,6°C.***