Badai Keracunan Hantam Program MBG di Sekolah: Saat Janji Perbaikan Gizi Tergantikan Krisis Keamanan Menu Makanan

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Jumat, 26 September 2025 | 12:25 WIB
Ahli Gizi, dr. Tan Shot Yen menyoroti menu makanan yang dinilai tak layak konsumsi dalam Program MBG di sebagian wilayah Tanah Air.  (Instagram.com/@drtanshotyen)
Ahli Gizi, dr. Tan Shot Yen menyoroti menu makanan yang dinilai tak layak konsumsi dalam Program MBG di sebagian wilayah Tanah Air. (Instagram.com/@drtanshotyen)

Ia juga menegaskan bahwa investigasi tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi melibatkan berbagai pihak. “Investigasi melibatkan kepolisian, BPOM, dan dinas kesehatan agar proses berjalan transparan,” ujarnya.

Di sisi lain, Nanik sempat menegaskan, investigasi melibatkan kepolisian, BPOM, dan dinas kesehatan agar proses berjalan transparan.

Lantas, bagaimana gelombang kritikan yang muncul imbas maraknya kasus keracunan massal yang dialami para siswa dalam program MBG tersebut? Berikut ini ulasan selengkapnya.

Investigasi dan Krisis Kepercayaan

Pembentukan tim investigasi memang langkah krusial. Di sisi lain, publik menilai hal ini belum cukup menjawab krisis kepercayaan. 

Baca Juga: Telisik Persoalan 2 Desa di Bogor yang Terancam Dilelang Gara-Gara Kredit Macet

Bagaimana tidak, 842 orang di Bandung Barat menjadi korban setelah menyantap makanan MBG. 

Jumlah tersebut tercatat dari tiga peristiwa keracunan di Cipongkor dan Cihampelas hanya dalam 3 hari ke belakang.

Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Lia N Sukandar sempat menyebut, kasus pertama terjadi pada Senin, 22 September 2025 dengan jumlah korban mencapai 393 orang. 

Dua hari berselang, angka itu bertambah 449 korban baru. Fakta ini menegaskan adanya celah serius dalam manajemen penyediaan makanan bergizi.

Baca Juga: Promedia Sukses Gelar CoreLab 2025 di Unesa, Ajang Mahasiswa Tingkatkan Skill Bikin Konten di Era Digital

Kritik Pedas Soal Menu

Selain persoalan keamanan pangan, sederet menu makanan yang dipilih dalam program MBG juga kini menuai kritik. 

Ahli gizi, dr. Tan Shot Yen pernah menyoroti pemberian burger hingga spageti dalam program MBG sebagai bentuk pengingkaran terhadap pangan lokal. 

“Alokasikan menu lokal 80 persen isi MBG di seluruh wilayah, saya ingin anak Papua bisa makan ikan kuah asam, saya pengin anak Sulawesi bisa makan kapurung,” tegas Tan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI, pada Senin, 22 September 2025.

Tan menilai, memperkenalkan burger pada anak-anak Indonesia justru melestarikan ketergantungan pada gandum impor. 

Baca Juga: Surat Resmi FIFA Pastikan Erick Thohir Boleh Rangkap Jabatan Menpora dan Ketum PSSI

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X