Dampak sosial pun tak bisa diabaikan. Studi yang dipublikasikan di Aerosol and Air Quality Research pada 2024 menemukan prevalensi penyakit paru hitam (black lung disease) di kalangan penambang batu bara Indonesia mencapai 13,88 persen.
Sementara itu, penelitian lain di Tanjung Enim mengungkap adanya paparan radioaktivitas alami di area tambang yang dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat sekitar.
Dengan sederet fakta tersebut, PTBA tampak terjebak dalam kontradiksi. Di satu sisi, perusahaan menampilkan wajah hijau lewat reklamasi dan proyek PLTS kecil-kecilan.
Namun di sisi lain, bisnis utamanya tetap pada batu bara, komoditas yang kian ditinggalkan pasar global serta menimbulkan beban lingkungan maupun sosial.
Baca Juga: Trump Tuntut PBB Lakukan Penyidikan, Klaim Alami 3 Sabotase Ini saat Hadiri Sidang Majelis Umum
Tanpa langkah nyata untuk mengurangi produksi sekaligus mengelola emisi metana, PTBA berisiko hanya dipandang sebagai perusahaan yang “melabur arang dengan cat hijau.”***
Artikel Terkait
Promedia Sukses Gelar CoreLab 2025 di Unesa, Ajang Mahasiswa Tingkatkan Skill Bikin Konten di Era Digital
Telisik Persoalan 2 Desa di Bogor yang Terancam Dilelang Gara-Gara Kredit Macet
Pengamat Sebut Isu ‘BBM Oplosan’ Jadi Faktor Masyarakat Beralih ke SPBU Swasta, Awal Penyebab Kekosongan Stok?
Badai Keracunan Hantam Program MBG di Sekolah: Saat Janji Perbaikan Gizi Tergantikan Krisis Keamanan Menu Makanan
BGN Surati SPPG Bermasalah, Dapur MBG Penyebab Keracunan Massal Ditutup hingga Tim Investigasi Mulai Bekerja