Redaksi88.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi perbaikan gizi anak kini tengah menghadapi ujian berat.
Gelombang kasus keracunan massal dalam tiga hari terakhir menimbulkan pertanyaan besar mengenai standar pengawasan dan kualitas makanan yang disajikan.
Alih-alih menjawab persoalan gizi anak, kini program MBG justru menghadapi ujian serius setelah ratusan korban jatuh hanya dalam rentang waktu 3 hari ke belakang.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Terkejut Tarif Cukai Rokok 57 Persen, Pengamat: Keterkejutan Bagian dari Gaya
Sorotan publik pun bergeser, tak hanya pada banyaknya korban, tetapi juga pada menu makanan yang disajikan dalam program tersebut.
Sejumlah ahli gizi melayangkan kritik tajam, mereka menilai pilihan menu MBG belum mencerminkan kekayaan pangan lokal Indonesia.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, apakah program MBG benar-benar lahir dari kebutuhan gizi masyarakat atau sekadar untuk memenuhi target politis.
Kementerian dan lembaga terkait kini berusaha memberikan penjelasan, Namun, di lapangan, masyarakat justru semakin curiga.
Baca Juga: Trump Tuntut PBB Lakukan Penyidikan, Klaim Alami 3 Sabotase Ini saat Hadiri Sidang Majelis Umum
Transparansi proses investigasi menjadi tuntutan utama agar kasus ini tidak berhenti sebagai insiden semata, melainkan menjadi momentum perbaikan menyeluruh dalam program MBG di sekolah-sekolah.
Kelemahan struktural pun ikut disorot, mulai dari standar dapur penyedia makanan hingga pengawasan distribusi.
Terlebih, kini Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menyebut pihaknya sudah membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti kasus keracunan di sekolah.
“Tim investigasi sudah dibentuk, ada tim internal dari kami dan sekarang lagi proses, bahkan sudah mulai berjalan,” kata Nanik kepada awak media di Jakarta, Kamis, 25 September 2025.