“Kemudian juga alat berat juga serang masuk secara masif untuk mempercepat. Semuanya sudah kita lakukan. Semuanya sudah kita lakukan,” tegas Suharyanto.
Di balik itu, terdapat bahaya yang mengintai di lokasi runtuhnya Ponpes Al-Khoziny, terutama bagi relawan dan keluarga korban.
Sebelumnya, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, telah menjelaskan bahwa bangunan Ponpes Al Khoziny runtuh dengan pola pancake collapse, yaitu kondisi di mana lantai-lantai bangunan saling menimpa dari atas ke bawah.
Syafii menilai kondisi ini sangat berbahaya karena puing yang bertumpuk dapat runtuh kembali sewaktu-waktu.
“Sehingga dari kondisi ini kalau dalam istilah SAR, tipe reruntuhannya sebenarnya tipe pancake," terang Syafii di lokasi kejadian, Sidoarjo, pada Rabu, 1 Oktober 2025.
"Oleh sebab itu, (hal itu) harus dilaksanakan penanganan khusus pada saat begitu tim SAR hadir melaksanakan dengan fasilitas yang dimiliki," imbuhnya.
Berdasarkan laporan dalam dunia konstruksi yang dikutip dari Designing Buildings UK, reruntuhan tipe pancake merupakan salah satu bentuk patahan yang berawal dari kegagalan satu struktur lalu merambat ke bagian lain.
Secara historis, fenomena serupa pernah terjadi di Bronx, New York, pada 1980, dan yang lebih tragis adalah pada runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) pada tahun 2001.
Melalui perbandingan ini, banyak pihak menyadari bahwa tragedi di Al Khoziny bukan hanya sekadar insiden lokal, melainkan juga bagian dari masalah serius terkait konstruksi dan keselamatan bangunan yang pernah terjadi di dunia.***