Di Balik Evakuasi Korban Insiden Al Khoziny: Ini Risiko Runtuhan ‘Pancake’ seperti Kasus Ambruknya WTC pada 2001

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Sabtu, 4 Oktober 2025 | 22:41 WIB
Menyoroti tipe reruntuhan pancake dalam proses evakuasi korban insiden ambruknya bangunan di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo. (X.com/@na_dirs)
Menyoroti tipe reruntuhan pancake dalam proses evakuasi korban insiden ambruknya bangunan di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo. (X.com/@na_dirs)

REDAKSI88.com - Isak tangis dan teriakan penuh kecemasan mewarnai proses pencarian korban ambruknya Pondok Pesantren/Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu, 4 Oktober 2025. 

Sejumlah keluarga korban yang telah berjam-jam menanti kabar berupaya menerobos area reruntuhan, dengan harapan dapat membantu Tim SAR Gabungan mencari orang terkasih yang masih tertimbun. 

Kendati demikian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa kondisi di lapangan tidaklah sederhana. Tumpukan beton yang ambruk tidak hanya menyulitkan tim SAR, tetapi juga mengancam keselamatan siapa pun yang mendekati area evakuasi

Baca Juga: Aksi Tagih-tagih 'Mata Elang' di Tangerang Berujung Cekcok dengan Polisi, Tambah Daftar Kasus Serupa yang Bikin Resah Warga

Selain itu, reruntuhan bertipe 'pancake' disebutkan dapat runtuh kembali hanya akibat getaran kecil. Oleh karena itu, petugas berulang kali harus menahan keluarga korban agar tidak memasuki zona bahaya, meskipun harus berhadapan dengan amarah dan tangisan di lokasi kejadian.

Empati jelas mengalir dari para relawan dan petugas, karena mereka memahami betul beratnya penantian di tengah puing-puing. 

Di sisi lain, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa keselamatan keluarga korban juga harus menjadi prioritas, agar tragedi ini tidak menelan korban lebih banyak. 

“Kalau keluarga inti orang tuanya itu sudah dijelaskan sejak hari pertama dan setiap langkah-langkah yang dilakukan oleh tim ini semuanya dikomunikasikan dengan keluarga," jelas Suharyanto di Posko Kedaruratan, Sidoarjo, pada Sabtu, 4 Oktober 2025. 

Baca Juga: Update Tragedi Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, BNPB Ungkap 14 Santri Tewas dan 49 Masih Hilang

"Namun, kadang-kadang dalam setiap bencana kan ada saja pihak-pihak yang baru datang gitu ya,” imbuhnya.

Suharyanto menyebutkan bahwa sikap tergesa-gesa keluarga korban muncul karena mereka melihat petugas bergerak hati-hati dengan peralatan besar, yang dianggap tidak sebanding dengan kegelisahan yang dirasakan. 

“Dia (keluarga) melihat di lapangan ‘itu kok kurang banyak’. ‘Kok kelihatannya gak bekerja’, dan dia minta masuk," terangnya. 

"Oleh sebab itu, ini sudah kami antisipasi, kami jelaskan termasuk tadi malam juga sudah dijelaskan secara rinci proses identifikasi yang dilakukan oleh DVI, Inavis, butuh waktu saja,” ujar Suharyanto.

Untuk meredakan kegelisahan, BNPB menegaskan bahwa segala daya dan upaya telah dimaksimalkan. Alat berat dikerahkan secara masif, tim medis bersiaga, dan identifikasi korban dilakukan seteliti mungkin. 

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X