nasional

Kisah Haru Korban Selamat dari Ambruknya Beton Ponpes Al Khoziny: Salat di Bawah Puing, Mengira Hanya Tertidur Pulas

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 23:50 WIB
Mengintip sederet momen dramatis penyelamatan korban insiden runtuhnya bangunan 3 lantai di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo. (X.com/@basarnas114yyk)

REDAKSI88.com - Publik Tanah Air tengah dihebohkan oleh insiden ambruknya bangunan musala tiga lantai milik Pondok Pesantren/Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, 29 September 2025.

Hingga Sabtu, 4 Oktober 2025, Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, menyatakan total korban dalam insiden ini mencapai 118 orang.

"Jumlah total sekarang 118 orang, dengan rincian 14 meninggal dunia dan 104 selamat," kata Nanang di lokasi kejadian, Sidoarjo, pada hari yang sama.

Sebelumnya, Tim SAR Gabungan telah menyatakan tidak lagi menemukan tanda kehidupan di balik puing reruntuhan bangunan beton Ponpes Al Khoziny pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Sementara itu, Syaiful Rosi Abdillah (13) tercatat sebagai korban terakhir yang berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.

Momen penyelamatan para korban menyisakan berbagai cerita pilu hingga haru selama proses evakuasi. Kisah-kisah ini tidak terlepas dari keputusan genting Tim SAR Gabungan, serta perjuangan para korban yang bertahan hidup yang diiringi doa keluarga dan masyarakat yang menanti dengan harap cemas.

Berikut rangkuman sederet cerita para korban yang selamat dari insiden ambruknya Ponpes Al Khoziny:

Baca Juga: Bayang-bayang Paparan Radioaktif Cs-137 di Cikande: Telisik Akar Masalah demi Jawab Keresahan Warga

Terpaksa Diamputasi di Bawah Puing

Cerita pertama datang dari Nur Ahmad, korban selamat yang berhasil dievakuasi pada Selasa, 30 September 2025. Dalam proses penyelamatan yang dramatis, Nur Ahmad terpaksa diamputasi tangannya oleh Tim SAR Gabungan agar dapat dibebaskan dari himpitan bangunan.

Salah satu tenaga kesehatan yang turun langsung, dr. Aaron Franklyn Suaduon Simatupang, mengungkapkan bahwa saat itu tidak ada misi lain kecuali menyelamatkan nyawa Ahmad dalam kondisi hidup, meskipun dengan risiko tertimpa bangunan yang berpotensi ambruk kembali.

"Pikiran saya, saya sudah siap mati sama pasien kalau bangunan itu runtuh. Karena itu sangat berbahaya, salah gerak sedikit ambruk," ujar Aaron kepada awak media di lokasi kejadian pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Beruntung, proses evakuasi berjalan baik dan selesai pukul 01.30 WIB. Setelah diamputasi, Ahmad berhasil dikeluarkan dari reruntuhan dan dibawa ke ICU.

Baca Juga: MBG Didesak Berhenti di Tengah Jalan, Kemendikdasmen hingga DEN Setujui Program Baik yang Butuh Evaluasi

Berjuang 3 Hari Tanpa Makan dan Minum

Kisah serupa dialami Syaiful Rosi Abdillah (13) yang juga harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya. Saat kejadian, kaki kanan Rosi remuk tertimpa reruntuhan selama tiga hari. Setelah operasi amputasi, Rosi menjalani perawatan intensif di RSUD Sidoarjo.

Halaman:

Tags

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB