Ia menceritakan bahwa saat kejadian, ia bersama enam temannya dan sempat berusaha mendorong beton yang menimpa, namun terlalu berat.
"Nggak lama nambah ada yang jatuh lagi. Beton semua, nggak bisa dorong. Kami minta tolong bareng-bareng, tapi nggak kedengaran. Baru jam 12 malam ada orang kampung datang bantuin," ujar Rosi di ruang perawatan RSUD Sidoarjo pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Selain berusaha bertahan dengan membaca selawat dan istighfar, Rosi juga terpaksa berpuasa karena sulit mendapatkan makanan dan minuman selama terjebak.
Tetap Salat Meski Terhimpit Bangunan
Syahlendra Haical alias Haikal (13) terjebak di reruntuhan selama dua hari. Saat petugas rescue mengecek keberadaannya bersama Yusuf (16), Haikal berkata,
"Semuanya sakit," dari balik reruntuhan pada Selasa, 30 September 2025. Proses evakuasi sempat terhambat karena pinggang Haikal tertimpa beton, namun ia akhirnya berhasil diselamatkan pada Rabu, 1 Oktober 2025.
Setelah kondisi membaik, Haikal bercerita bahwa sebelum insiden, ia sempat mengajak temannya salat bersama. Nahas, temannya tersebut meninggal tepat di sebelahnya. Meskipun dalam kondisi terhimpit, Haikal mengaku tetap menunaikan salat dalam posisi berbaring.
Santri asal Probolinggo itu juga mengajak temannya yang terjebak untuk salat bersama. "Temannya masih menyahut saat Isya. Namun saat salat Subuh, temannya tidak lagi bersuara," kisah Haikal, yang kemudian menyadari temannya telah wafat dalam posisi sujud.
Baru Sadar Ponpes Ambruk Setelah Dievakuasi
Kisah lain datang dari Al Fatih Cakra Buana (14) yang awalnya tidak menyangka bangunan musala yang dimasukinya telah ambruk. Fatih baru menyadari kejadian sebenarnya saat dievakuasi, setelah selama tiga hari mengira dirinya hanya tertidur dan mengalami mimpi.
Kisah ini disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. "Ternyata selama tiga hari tertidur. Ketika dievakuasi baru sadar ada gedung yang ambruk," kata Khofifah di Sidoarjo pada Jumat, 3 September 2025.
Setelah diselamatkan, Fatih bercerita bahwa selama terjebak, ia tidak sepenuhnya sadar. "Saya sempat lari, tapi masih kena (runtuhan). Pas sadar, saya nggak merasa sakit sama sekali," ujarnya.
Ia mengaku bermimpi melakukan berbagai hal, seperti minum dengan selang dan berjalan di tempat gelap. Diketahui, Fatih selamat karena tubuhnya terlindungi tumpukan pasir dan kepalanya tertutup lembaran seng. Sebelum bangunan roboh, Fatih mengaku ada lima orang di sekitarnya.***
Artikel Terkait
Marak Rokok Ilegal, Menkeu Purbaya Gulirkan Wacana Pemutihan Produsen Kecil di Tengah Upaya Reformasi Cukai
Update Tragedi Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, BNPB Ungkap 14 Santri Tewas dan 49 Masih Hilang
Aksi Tagih-tagih 'Mata Elang' di Tangerang Berujung Cekcok dengan Polisi, Tambah Daftar Kasus Serupa yang Bikin Resah Warga
Di Balik Evakuasi Korban Insiden Al Khoziny: Ini Risiko Runtuhan ‘Pancake’ seperti Kasus Ambruknya WTC pada 2001
MBG Didesak Berhenti di Tengah Jalan, Kemendikdasmen hingga DEN Setujui Program Baik yang Butuh Evaluasi
Bayang-bayang Paparan Radioaktif Cs-137 di Cikande: Telisik Akar Masalah demi Jawab Keresahan Warga