Bandingkan dengan Menu MBG, Kepala BGN Sebut 60 Persen Anak Indonesia Sulit Dapat Gizi Seimbang dan Tak Mampu Beli Susu

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Sabtu, 31 Mei 2025 | 13:30 WIB
Potret Kepala BGN Dadan Hindayana yang mengklaim 60 persen anak Indonesia tak mampu beli susu.  (Instagram.com / @badangizinasional.ri)
Potret Kepala BGN Dadan Hindayana yang mengklaim 60 persen anak Indonesia tak mampu beli susu. (Instagram.com / @badangizinasional.ri)

Redaksi88.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyoroti pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya untuk menyeimbangkan asupan gizi anak-anak di Indonesia.

Dalam acara Peluncuran Pembangunan 1000 SPPG Pesantren, Dadan mengungkapkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang belum bisa mengakses makanan bergizi setiap harinya.

“Kita tahu bahwa 60 persen anak Indonesia itu tidak pernah punya akses terhadap makan dengan gizi seimbang,” klaim Dadan, dikutip dari tayangan langsung YouTube Syaichona TV pada Jumat, 30 Mei 2025.

Baca Juga: Kepala BGN Sebut Minum Susu 2 Liter Sehari Bikin Anak Tinggi, Ini Respons Dokter Spesialis Anak

Ia mencontohkan beberapa jenis makanan yang umum dikonsumsi anak-anak, lalu membandingkannya dengan menu yang tersedia dalam program MBG.

“Kalau makan ada nasi, ada bakwan atau bala-bala, ada mi bihun, ada kerupuk, itu sebagian besar makanannya seperti itu,” ujarnya.

“Sementara yang disajikan di dalam MBG pasti selalu ada nasi, ada telur, ada sayur, ada buah, ada susu, jadi itu yang disebut dengan gizi seimbang,” terangnya.

Baca Juga: Siap Sambut Jemaah Calon Haji Indonesia di Arafah, Kemenag Soroti Penataan Kasur di Tenda

Dadan juga menyoroti masalah daya beli masyarakat, yang menurutnya menjadi salah satu penyebab anak-anak tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi susu.

“60 persen anak Indonesia tidak pernah minum susu bukan karena tidak tahu, tetapi tidak mampu beli susu ya, seperti itu,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa program MBG dipandang strategis oleh Presiden karena berperan penting dalam mencetak generasi masa depan yang unggul.

Baca Juga: Wamendagri Umumkan Retret Kepala Daerah Gelombang II Digelar di IPDN Juni 2025

“Makanya program ini disebut Bapak Presiden sebagai sesuatu yang strategis karena kita ingin menghasilkan generasi emas di tahun 2045,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dadan menyampaikan bahwa program ini juga ditujukan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang produktif ketika memasuki usia kerja di masa bonus demografi mendatang.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X