Benteng Marlborough, Saksi Bisu Penjajahan Inggris di Bengkulu

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Selasa, 4 Maret 2025 | 10:00 WIB
Benteng Marlborough, Saksi Bisu Penjajahan Inggris di Bengkulu. (Dok. DJKN Kemenkeu)
Benteng Marlborough, Saksi Bisu Penjajahan Inggris di Bengkulu. (Dok. DJKN Kemenkeu)

Redaksi88.com - Bengkulu, yang dahulu kaya akan hasil bumi dan dihuni oleh beragam suku bangsa mulai dari Rejang, Serawai, Pasemah, Melayu, Mukomuko, hingga Enggano menjadi saksi perjalanan sejarah yang luar biasa. 

Di tengah kekayaan alam dan posisi strategisnya di pesisir barat Sumatera, wilayah ini sempat menarik minat para pedagang Inggris

Pada mulanya, hubungan dagang antara Inggris dan masyarakat Bengkulu berlangsung setara dan saling menguntungkan. 

Baca Juga: Jangan Lewatkan! Ini 5 Amalan Sunnah di Bulan Syawal yang Perlu dilakukan dan diketahui Umat Muslim

Namun, seiring waktu, keserakahan menguasai jiwa para pedagang Eropa. Mereka pun mulai menerapkan monopoli untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan alam Bengkulu demi kepentingan dagang mereka.

Tak lama kemudian, Inggris mendirikan pusat perdagangan dan pertahanan demi mengawal jalur rempah-rempah. 

Benteng pertahanan pertama yang dibangun, Benteng Yok, didirikan sekitar tahun 1685. Sayangnya, kondisi alam Bengkulu yang rawan gempa, banjir, serta wabah kolera dan malaria mengakibatkan bangunan tersebut cepat mengalami kerusakan. 

Pada tahun 1714, di bawah pimpinan Joseph, Inggris pun memutuskan meninggalkan Benteng Yok dan memindahkan markasnya ke sebuah bangunan sementara di ujung Karang Loji, sembari menanti pembangunan benteng baru yang megah.

Puncaknya adalah kelahiran Benteng Marlborough, yang dibangun antara tahun 1714 hingga 1719 dengan tenaga kerja dari India. 

Baca Juga: 5 Manfaat Puasa Ramadhan untuk Anak, dari Kesehatan hingga Karakter

Berdiri kokoh di atas sebuah bukit yang menjulang 8,5 meter di atas permukaan laut, benteng ini memandang luas ke Samudra Hindia dan meliputi area sekitar 44.100 meter persegi. 

Awalnya difungsikan sebagai basis pertahanan militer, Benteng Marlborough kemudian bertransformasi menjadi pusat koordinasi perdagangan, mengawasi suplai lada untuk British East India Company dan mengontrol jalur pelayaran strategis yang melintasi Selat Sunda. 

Kini, gerbang dan koridor benteng yang telah beralih fungsi menjadi ruang penyambutan pengunjung, serta gudang-gudang penyimpanan yang diubah menjadi museum, mengisahkan kembali perjalanan waktu yang tak terlupakan.

Perubahan kekuasaan pun semakin nyata ketika, pada 17 Maret 1824, terjadi pertukaran wilayah antara Belanda dan Inggris melalui Traktat London. 

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: Berbagai Sumber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X