Keputusan itu bukan karena paksaan, melainkan hasil dari kesadaran dan kerelaan pribadi.
"Beliau sudah bilang ingin istirahat, tidak ingin naik gunung lagi. Maunya tinggal di rumah bareng keluarga," ungkap Syaiful.
Kepergian Mbok Yem menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi ribuan pendaki yang pernah singgah di warungnya.
Warung sederhana miliknya di puncak Lawu selama ini bukan hanya menjadi tempat istirahat, tapi juga simbol keteguhan dan keramahan di tengah dinginnya udara pegunungan.
Kini, warung yang telah berdiri selama puluhan tahun itu sedang dalam masa pertimbangan keluarga.
Belum ada keputusan resmi apakah warung tersebut akan diteruskan oleh generasi berikutnya atau tidak.
"Nanti kami bicarakan bersama keluarga besar. Sekarang fokus dulu untuk melepas kepergian beliau," tambah Syaiful.
Mbok Yem bukan hanya sekadar pemilik warung di puncak gunung. Sosoknya yang sederhana, hangat, dan penuh semangat telah menjadi bagian penting dari sejarah Gunung Lawu.***
Artikel Terkait
Direktur Jak TV Diduga Terima Rp487 Juta secara Pribadi dalam Kasus Perintangan Penyidikan
Kejagung Sita Aset Ariyanto Bakri di Kasus Suap Hakim di PN Jakarta, Terdapat 2 Kapal hingga 5 Mobil Mewah
Terungkap! Ini Alasan Gudang CV Sentosa Seal Disegel Usai Viral Dugaan Tahan Ijazah Karyawan
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Ungkap 15 Ijazah Karyawan Diduga Ditahan oleh CV Sentosa Seal
Kedua Kalinya Terjerat Kasus Penyalahgunaan Narkoba, Fachri Albar Sempat Rehabilitasi Namun Tak Kapok