Redaksi88.com – Perusahaan makanan dan minuman asal Swiss, Nestle, baru-baru ini mengguncang publik usai mengumumkan pemecatan CEO mereka, Laurent Freixe.
Keputusan tersebut diambil menyusul terungkapnya hubungan asmara Freixe dengan salah satu karyawan, yang dinilai melanggar kode etik perusahaan.
Pasar saham langsung bereaksi. Pada Senin, 1 September 2025, saham Nestle tercatat merosot lebih dari 2,5 persen setelah kabar itu menyebar luas di media sosial.
Baca Juga: PBB Tekankan Dialog dan Transparansi dalam Penanganan Aksi Protes di Indonesia
Penurunan ini semakin memperburuk kinerja perusahaan yang dalam lima tahun terakhir terus menghadapi tekanan.
Dalam pernyataan resminya, Nestle menegaskan langkah itu diperlukan untuk menjaga tata kelola dan integritas perusahaan.
“Nilai-nilai dan tata kelola Nestle merupakan fondasi yang kuat bagi perusahaan kami. Saya berterima kasih kepada Laurent atas pengabdiannya selama bertahun-tahun,” demikian pernyataan Nestle, dikutip dari Sky News, Rabu 3 September 2025.
Baca Juga: BI Pastikan Suku Bunga Kredit Berangsur Turun, tapi Transmisi Perlu Waktu
Laurent Freixe diketahui bergabung dengan Nestle sejak 1986 dan pernah memegang sejumlah jabatan penting, termasuk kepala eksekutif di wilayah Amerika Latin, sebelum akhirnya dipercaya menjadi CEO global.
Namun, meski memiliki rekam jejak panjang, kepemimpinannya dinilai gagal mengangkat kinerja saham.
Selama masa jabatannya, harga saham Nestle anjlok hingga 17 persen, yang semakin menambah kekecewaan para investor.
Baca Juga: Prabowo Pastikan Aspirasi Rakyat Didengar: DPR Cabut Tunjangan hingga Kunjungan Luar Negeri
Menurut laporan Sky News, kasus Freixe bukan yang pertama. Pada 2024 lalu, CEO sebelumnya, Mark Schneider, juga diberhentikan secara mendadak.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai stabilitas kepemimpinan di tubuh perusahaan raksasa tersebut.