Negosiasi Rusia dan Ukraina di Istanbul Gagal: Tuntutan Rusia Dinilai Tidak Realistis

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 21:25 WIB
Bendera negara Rusia dan Ukraina. (freepik.com)
Bendera negara Rusia dan Ukraina. (freepik.com)

REDAKSI88.com – Upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina kembali diupayakan melalui pertemuan langsung di Istanbul, Turkiye, pada Jumat, 16 Mei 2025.

Namun, diskusi yang hanya berjalan dua jam itu berakhir tanpa kemajuan signifikan.

Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, atau setelah lebih dari tiga tahun komunikasi langsung terputus.

Menurut laporan Reuters, negosiasi sejak awal sudah diwarnai ketegangan. Perbedaan pandangan yang tajam antara kedua pihak semakin mempersulit tercapainya kesepakatan.

Baca Juga: Prabowo Langsung 'Ngantor' Setiba di Tanah Air, Terima Kunjungan Wakil PM Rusia di Istana Merdeka

“Rusia mengajukan tuntutan yang jauh melampaui apa pun yang pernah dibahas sebelumnya,” ungkap sumber tersebut, seperti dikutip pada Sabtu, 17 Mei 2025.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa syarat-syarat yang diajukan Moskwa dinilai tidak masuk akal dan justru menghambat proses perundingan.

Harapan dunia akan perdamaian semakin meredup setelah Presiden AS Donald Trump menyelesaikan kunjungannya ke Timur Tengah sehari sebelumnya.

Trump menegaskan pentingnya keterlibatannya secara langsung dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Baca Juga: Kasus Bule Jerman Bos Parq Ubud di Bali, Kuasai 34 SHM hingga Dihuni Warga Rusia

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa Kyiv menginginkan penghentian serangan tanpa syarat.

“Jika Rusia menolak gencatan senjata, Moskwa harus menghadapi sanksi baru yang kuat, khususnya di sektor energi dan perbankan,” tegas Zelensky.

Di sisi lain, Rusia mengklaim tetap terbuka terhadap solusi diplomatik dan menyatakan kesediaannya untuk membahas gencatan senjata. 

Namun, mereka juga menuduh Ukraina memanfaatkan jeda konflik untuk memperkuat militer dengan dukungan negara-negara Barat.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X