Redaksi88.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti tingginya konsumsi rokok di masyarakat yang dinilai berkontribusi terhadap angka stunting di Indonesia.
Oleh karena itu, pengendalian besarnya konsumsi rokok menjadi upaya yang dilakukan untuk menurunkan dan mencegah stunting.
Rokok Jadi Pengeluaran Terbesar Rumah Tangga
Menurut Kemenkes, alokasi anggaran rumah tangga yang lebih banyak digunakan untuk membeli rokok membuat kebutuhan gizi keluarga semakin terabaikan.
“Rokok itu mengalahkan dari konsumsi beras di rumah tangga. Ini juga menjadi kenapa pemerintah kita mengatur kembali dikaitkan dengan penggunaan produk rokok dan rokok elektronik,” ujar perwakilan Tim Kerja Paru, Otak, dan Kardiovaskular Direktorat Jenderal (Ditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes Hanifah Rogayah dalam diskusi publik di Jakarta pada Rabu, 24 September 2025.
Baca Juga: Bupati ASA Hadiri HUT ke 42 Desa Arga Mulya, Apresiasi Sinergi Warga dan Pemerintah Desa
Ia menambahkan, pemerintah saat ini tengah memfokuskan perhatian pada upaya menekan angka stunting di Indonesia.
“Selain menyebabkan penyakit, sekarang fokus pemerintah adalah menurunkan stunting, kalau belanja rumah tangga lebih besar untuk rokok daripada besar, pemenuhan gizi keluarga akan terganggu,” katanya.
Rokok dan Risiko Stunting
Sejumlah data penelitian memperkuat keterkaitan antara konsumsi rokok dan stunting.
Penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial UI pada 2018 menunjukkan, balita yang tinggal bersama orang tua perokok memiliki berat badan 1,5 kilogram lebih rendah dibanding anak dari orang tua bukan perokok.
Hasil penelitian yang sama juga mencatat, 5,5 persen balita dengan orang tua perokok berisiko lebih tinggi mengalami stunting.
“Kalau mau berkontribusi untuk stunting, para orang tua tidak usah merokok dan lebih baik gunakan uangnya untuk membeli protein hewani seperti telur,” ucap Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Endang Sumiwi, dikutip dari laman resmi Kemenkes pada 7 Juni 2023.
Sementara itu, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021 mencatat, pengeluaran keluarga untuk rokok mencapai tiga kali lipat lebih besar dibandingkan biaya yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan protein.
Dilema Rokok untuk Kesehatan dan Ancaman PHK
Sementara itu, tingginya kebijakan tarif cukai rokok yang diterapkan di Indonesia juga bertujuan untuk menjaga kesehatan, namun di sisi lain memberi pengaruh pada industri rokok.
Artikel Terkait
Awal Mula 352 Siswa Keracunan Massal yang Diduga Imbas Menu MBG Tak Layak Konsumsi di KBB, Lonjakan Korban dalam Hitungan Jam
Hari Tani Nasional ke-65: Serikat Petani Indonesia Gelar Aksi Damai di Monas, Desak Reforma Agraria Sejati
Kasus Keracunan MBG Masih Terus Berulang hingga Jadi KLB, Begini Jawaban Konsisten Kepala BGN
Puja-puji dan Kritikan Pedas Rocky Gerung: Mahfud MD Disanjung, Qodari Justru Kena Sindir
Lanjutan Penyidikan Korupsi Kuota Haji 2024, KPK Jamin Tak Ada Intervensi Meski Belum Tetapkan Tersangka