REDAKSI88.com - Kasus pencemaran radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di Kawasan Industri Modern Cikande, Banten, sedang ramai menuai sorotan tajam.
Awalnya, keresahan publik mencuat setelah laporan dari Amerika Serikat pada Agustus 2025, yang menyatakan bahwa produk udang beku asal Indonesia terdeteksi mengandung Cs-137 di beberapa pelabuhan besar, seperti Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami.
Menanggapi temuan tersebut, pemerintah langsung bergerak cepat dengan membentuk Satgas Penanganan Cs-137 pada 11 September 2025.
Satgas ini diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dengan pengendali teknis Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq.
Selanjutnya, status kejadian khusus pencemaran radiasi ditetapkan agar penanganannya dapat berjalan terkoordinasi penuh.
Dalam upaya mengatasi dugaan pencemaran ini, Hanif Faisol menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor, keterlibatan masyarakat, dan keterbukaan informasi publik.
“Dukungan dari seluruh elemen diharapkan dapat memperkuat upaya menjaga keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat dari risiko kontaminasi bahan radioaktif,” ujar Hanif Faisol dalam keterangan resminya di Jakarta, pada 23 September 2025 lalu.
Kini, di tengah kecemasan publik mengenai paparan radioaktif di Cikande, pertanyaan besar pun mencuat tentang akar masalah dan penyebabnya. Berikut ulasan selengkapnya.
Baca Juga: Radiasi Cs-137 di Cikande: Status Zona Khusus Ditetapkan, 1.500 Lebih Orang Jalani Pemeriksaan
Akar Masalah: Besi Tercemar di Kawasan Industri
Berdasarkan investigasi satgas, akar permasalahan mengarah pada pabrik peleburan besi PT Peter Metal Technology (PMT) di Kawasan Industri Modern Cikande. Dari pabrik ini, ditemukan besi bekas seberat 700 kilogram yang telah tercemar Cs-137.
Staf Ahli Kemenko Pangan, Bara Khrishna Hasibuan, mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers Satgas Penanganan Cs-137 di Jakarta, pada Selasa, 30 September 2025.
“Penyebab adanya material radioaktif cesium-137 adalah besi sebagai bahan baku di pabrik tersebut telah tercemar Cs-137,” terangnya.
Besi yang terkontaminasi itu diduga terbawa udara hingga mencapai fasilitas pengemasan udang milik PT Bahari Makmur Sejati (BMS), yang jaraknya kurang dari dua kilometer dari pabrik PMT.
Artikel Terkait
Melihat Progres IKN Menuju Ibu Kota Politik 2028, Laporan Basuki Hadimuljono ke Istana hingga Dukungan Pembiayaan dari Kemenkeu
Marak Rokok Ilegal, Menkeu Purbaya Gulirkan Wacana Pemutihan Produsen Kecil di Tengah Upaya Reformasi Cukai
Update Tragedi Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, BNPB Ungkap 14 Santri Tewas dan 49 Masih Hilang
Aksi Tagih-tagih 'Mata Elang' di Tangerang Berujung Cekcok dengan Polisi, Tambah Daftar Kasus Serupa yang Bikin Resah Warga
Di Balik Evakuasi Korban Insiden Al Khoziny: Ini Risiko Runtuhan ‘Pancake’ seperti Kasus Ambruknya WTC pada 2001
MBG Didesak Berhenti di Tengah Jalan, Kemendikdasmen hingga DEN Setujui Program Baik yang Butuh Evaluasi