Sejarah Sritex: Dari Pasar Tradisional ke Pentas Global dan Diambang Kepailitan

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Kamis, 24 Oktober 2024 | 16:46 WIB
PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau Sritex. (Dox.Dinsos Bojonegoro)
PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau Sritex. (Dox.Dinsos Bojonegoro)

Redaksi88.com- Perjalanan PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau Sritex, adalah kisah luar biasa tentang visi besar yang lahir dari awal sederhana.

Didirikan pada tahun 1966 di jantung Pasar Klewer, Solo, oleh H.M. Lukminto, perusahaan ini memulai langkahnya sebagai pedagang tekstil tradisional.

Dengan keberanian dan inovasi, Sritex tumbuh pesat hingga mengukuhkan dirinya sebagai pemain utama di panggung global.

Visi Lukminto yang jauh ke depan tidak hanya membawa Sritex keluar dari batas-batas pasar tradisional, tetapi juga menjadikannya perusahaan yang mampu memenuhi kebutuhan seragam militer dari berbagai negara.

Perkembangan Sritex tidak dapat dilepaskan dari upayanya mengadopsi teknologi modern dan menjaga kualitas produk yang mampu bersaing di pasar internasional.

Di bawah bendera kebanggaan bangsa, Sritex menjadi simbol kebangkitan industri tekstil nasional yang bisa berkompetisi di tingkat dunia.

Baca Juga: Penasihat Prabowo Menjembatani Urusan Strategis di Berbagai Sektor, Siapa Sajakah Mereka?

Namun, di balik kesuksesan yang gemilang, bayang-bayang masalah keuangan perlahan mulai mengintai. Krisis global, ditambah dengan ketidakstabilan ekonomi nasional, menyeret Sritex ke dalam badai yang tak terhindarkan.

Pada akhirnya, perusahaan yang pernah berjaya ini kini berada di ambang kepailitan, sebuah ujian berat bagi raksasa tekstil yang pernah membawa nama Indonesia ke pentas dunia.

Seperti dilansir dari laman Sritex.co.id berikut ini sejarah berdirinya salah satu perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara ini.

Awal Mula dan Pendirian Pabrik
Pada tahun 1968, Sritex membuka pabrik cetak pertamanya di Solo, menghasilkan kain putih dan berwarna yang menjadi fondasi awal bagi pertumbuhannya.

Langkah penting diambil pada 1978 ketika perusahaan resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas di Kementerian Perdagangan, menandakan ambisi untuk berkembang lebih besar lagi.

Baca Juga: Pentingnya Waspada terhadap Cacar Monyet: Risiko bagi Penderita Diabetes dan Cara Pencegahannya

Empat tahun kemudian, pada 1982, Sritex mendirikan pabrik tenun pertamanya. Momentum ini mengawali transformasi Sritex menjadi lebih dari sekadar pedagang, melainkan sebagai produsen tekstil terintegrasi.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X