Tahun 1992 menjadi titik balik saat Sritex memperluas pabriknya dengan empat lini produksi di bawah satu atap: pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan busana. Ini memungkinkan perusahaan untuk menawarkan solusi tekstil lengkap.
Keberhasilan terus berlanjut, hingga pada tahun 1994 Sritex dipercaya sebagai produsen seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman, memperkuat reputasi globalnya.
Namun, tantangan besar datang pada 1998, ketika krisis moneter melanda Asia. Meski begitu, Sritex tidak hanya berhasil bertahan, tapi juga mampu melipatgandakan pertumbuhannya delapan kali lipat dari kondisi 1992. Ini menjadi bukti ketangguhan perusahaan menghadapi gejolak ekonomi.
Memasuki tahun 2010, persaingan di kancah industri tekstil semakin ketat. Namun, Sritex terus menaklukkan berbagai tantangan dan bahkan menggandakan pertumbuhan serta kinerjanya dibandingkan tahun 2008.
Kesuksesan ini menjadi bukti bahwa strategi ekspansi dan inovasi yang diterapkan oleh Sritex membuahkan hasil yang luar biasa.
Pada tahun 2013, PT Sri Rejeki Isman Tbk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode ticker SRIL. Ini menandai transformasi perusahaan menjadi entitas publik yang semakin siap menghadapi persaingan global.
Baca Juga: Pengamat: Pengarahan Prabowo di Rapat Kabinet Perdana Tegas dan Tepat Sasaran
Keberhasilan Sritex menarik perhatian nasional dan internasional.
Pada 2014, Iwan S. Lukminto, sebagai generasi penerus H.M. Lukminto, menerima penghargaan prestisius sebagai Businessman of the Year dari Forbes Indonesia dan EY Entrepreneur of the Year 2014 dari Ernst & Young.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kepemimpinan dan visi strategisnya dalam mengarahkan Sritex ke panggung dunia.
Tahun 2015 menjadi tahun yang penuh pencapaian, di antaranya adalah ekspansi besar Sritex yang mendapat dukungan dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, serta Menteri Perindustrian, Saleh Husin.
Selain itu, Sritex dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai pelopor dalam penciptaan investor saham terbesar dalam perusahaan.
Penghargaan lain yang diterima di antaranya adalah Intellectual Property Rights Award 2015 dari WIPO dan Top Performing Listed Companies di sektor tekstil dan garmen dari Majalah Investor.
Baca Juga: Zita Anjani: Sosok Pemimpin Muda di Pemerintahan Prabowo, Antara Prestasi dan Ujian Kontroversi
Tahun 2016 juga sarat dengan prestasi, di antaranya Best Performance Listed Companies dari Majalah Investor dan Best Enterprise Achievers sebagai Perusahaan Lokal Raksasa dari Obsession Media Group.
Sritex juga berhasil menerbitkan obligasi global senilai 350 juta Dollar Amerika, yang jatuh tempo pada 2021.
Artikel Terkait
Pengamat: Pengarahan Prabowo di Rapat Kabinet Perdana Tegas dan Tepat Sasaran
Lacrimal Punctum: Saluran Air Mata dan Fungsinya dalam Kesehatan Mata
Simak! Bahaya Menghina Teman dengan Sebutan Binatang dalam Islam
Pentingnya Waspada terhadap Cacar Monyet: Risiko bagi Penderita Diabetes dan Cara Pencegahannya
Sritex: Jejak Kejayaan, Kontroversi, dan Kejatuhan di Tengah Guncangan Global
Penasihat Prabowo Menjembatani Urusan Strategis di Berbagai Sektor, Siapa Sajakah Mereka?