Tradisi ini terus beradaptasi hingga kini, dengan dekorasi khas merah, seperti lentera dan angpao, serta kegiatan sosial yang semakin beragam.
Imlek di Indonesia dan Sejarah Diskriminasi
Uniknya, istilah "Imlek" hanya digunakan di Indonesia, sementara di negara asalnya dikenal sebagai Sin Cia atau Tahun Baru Lunar.
Istilah "Imlek" berasal dari dialek Hokkien yang berarti "kalender bulan," yang muncul akibat larangan penggunaan bahasa Mandarin di Indonesia.
Pada masa Orde Baru, melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, perayaan budaya Tionghoa, termasuk Imlek, dilarang dirayakan secara terbuka.
Baca Juga: Kevin Diks Tarik Perhatian Fans Garuda Setelah Pindah dari Denmark ke Jerman
Kebijakan anti-komunis melihat budaya Tionghoa sebagai ancaman, sehingga masyarakat Tionghoa hanya bisa merayakan Imlek secara sembunyi-sembunyi.
Diskriminasi ini mulai berakhir setelah runtuhnya Orde Baru, dengan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan tersebut.
Presiden Megawati Soekarnoputri kemudian menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional pada 2002, mengembalikan kebebasan ekspresi budaya Tionghoa.
Meski demikian, jejak diskriminasi selama Orde Baru masih membekas, menjadi pengingat perjuangan masyarakat Tionghoa menjaga tradisinya.***
Artikel Terkait
Waspada Level II, Pendaki Viral di Gunung Marapi Sumbar hingga Jalur Wisata Ditutup Permanen
Kasus Bule Jerman Bos Parq Ubud di Bali, Kuasai 34 SHM hingga Dihuni Warga Rusia
Kevin Diks Tarik Perhatian Fans Garuda Setelah Pindah dari Denmark ke Jerman
Kemendikdasmen Luncurkan Rumah Pendidikan, Solusi Digital untuk Guru dan Siswa
Supir Angkutan Batu Bara Keluhkan Pungli oleh Oknum Satpam PT CDE di Bengkulu Utara
Tegak Lurus, PWI Bengkulu Tetap Solid Satu Komando, Hadiri HPN Kalsel