Sejarah Perayaan Imlek yang Hanya Ada di Indonesia Akibat Diskriminasi

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Selasa, 28 Januari 2025 | 17:48 WIB
Perayaan Imlek di Kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu, 26 Januari 2025. (instagram.com/tienkoksie)
Perayaan Imlek di Kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu, 26 Januari 2025. (instagram.com/tienkoksie)

Tradisi ini terus beradaptasi hingga kini, dengan dekorasi khas merah, seperti lentera dan angpao, serta kegiatan sosial yang semakin beragam.

Imlek di Indonesia dan Sejarah Diskriminasi

Uniknya, istilah "Imlek" hanya digunakan di Indonesia, sementara di negara asalnya dikenal sebagai Sin Cia atau Tahun Baru Lunar.

Istilah "Imlek" berasal dari dialek Hokkien yang berarti "kalender bulan," yang muncul akibat larangan penggunaan bahasa Mandarin di Indonesia.

Pada masa Orde Baru, melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, perayaan budaya Tionghoa, termasuk Imlek, dilarang dirayakan secara terbuka.

Baca Juga: Kevin Diks Tarik Perhatian Fans Garuda Setelah Pindah dari Denmark ke Jerman

Kebijakan anti-komunis melihat budaya Tionghoa sebagai ancaman, sehingga masyarakat Tionghoa hanya bisa merayakan Imlek secara sembunyi-sembunyi.

Diskriminasi ini mulai berakhir setelah runtuhnya Orde Baru, dengan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan tersebut.

Presiden Megawati Soekarnoputri kemudian menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional pada 2002, mengembalikan kebebasan ekspresi budaya Tionghoa.

Meski demikian, jejak diskriminasi selama Orde Baru masih membekas, menjadi pengingat perjuangan masyarakat Tionghoa menjaga tradisinya.***

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X