REDAKSI88.com – Gelombang kedua jemaah calon haji asal Indonesia mulai tiba di Bandara King Abdul Aziz International (KIAA), Jeddah, pada Sabtu, 17 Mei 2025.
Kedatangan di Bandara Jeddah ini berbeda dengan penerbangan yang mendarat di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah.
Sebab, jemaah yang tiba di Jeddah akan langsung dipisahkan berdasarkan syarikah masing-masing.
Akibat pembagian layanan oleh syarikah, ada kemungkinan jemaah terpisah dari rombongan, baik dari satu kloter (kelompok terbang) maupun dari keluarga sendiri.
Baca Juga: Australia Berikan Dukungan Penuh untuk Keanggotaan Indonesia di OECD dan CPTPP
Syarikah merupakan mitra perusahaan yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi untuk memberikan layanan pendukung ibadah haji, meliputi logistik, kesehatan, akomodasi, dan fasilitas lainnya.
Selama ini, jemaah haji Indonesia umumnya dilayani oleh Mashariq, namun pada 2025 terdapat tujuh syarikah tambahan yang terlibat.
Total delapan syarikah yang melayani jemaah Indonesia tahun ini adalah Al Bait Guests, Rakeen Mashariq, Sana Mashariq, Rehlat & Manafea, Al Rifadah, Rawaf Mina, MCDC, dan Rifad.
Masing-masing syarikah akan menangani 11.000 hingga 36.000 jemaah.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, menjelaskan bahwa pemisahan jemaah dari keluarga mungkin terjadi, tetapi pihaknya berupaya meminimalkannya.
“Potensi berpisah dengan keluarga memang satu hal yang tidak bisa dihindarkan, tapi kita akan mencoba melobi ke Kementerian Haji di Bandara Jeddah kalau memang memungkinkan untuk bisa digabungkan,” kata Basir pada Jumat malam, 16 Mei 2025, waktu Arab Saudi.
“Tapi kalau memang tidak bisa, toh itu hanya berpisah dalam waktu yang tidak lama, nanti Daker Makkah yang akan mengurus penggabungan mereka kembali,” tambahnya.