“Ini Anda bisa lho di-Jokowisasi setelah tidak jadi pejabat, diulik terus,” ujarnya sambil tertawa.
Baca Juga: Pengungkapan Kasus Curanmor di Bengkulu Utara, Dua Pelaku Diamankan Polisi
Banyak Persoalan Menyeret Jokowi Usai Tak Menjabat Presiden
Dalam video tersebut, Ray juga menjabarkan sederetan isu yang pernah menyeret Jokowi dalam setahun terakhir saat sudah tak menjadi presiden.
“Diulik terus, ijazah, pindah ijazah ke pemakzulan, pindah ke ijazah anaknya, sekarang Whoosh dalam satu tahun,” tambahnya.
Polemik Jokowi Munculkan Masyarakat yang Permasalahkan Kepemimpinannya
Berbagai isu menyeret nama Jokowi, kata Ray membuat kini muncul masyarakat yang menyoalkan kepemimpinan pimpinan sebelumnya.
“Apa yang terjadi? Itu kan artinya siapapun pemimpinnya masa yang akan datang, jangan menyimpan sesuatu yang Anda akan dipersoalkan justru setelah nggak berkuasa. Sakit,” ucapnya.
“Kenapa sakit? Karena kan ini masanya menikmati,” tegasnya.
Baca Juga: Bongkar Tuntas! Kejari Bengkulu Utara Janji Sikat Habis Mafia Anggaran Dinkes
Bandingkan Masalah Jokowi dan Soeharto yang Memantik Gelombang Publik
Ray lantas membandingkan reaksi publik antara Soeharto dan Jokowi setelah selesai memimpin.
Ia menyebut bahwa saat Jokowi lebih kencang soal gelombang publik yang didapat karena turunnya ayah Wapres Gibran dari jabatannya sebagai Presiden terjadi sesuai aturan.
“Di Pak Jokowi ini jauh lebih kencang karena nggak ada peristiwa yang mendesak orang saat sudah lengser, kalau Pak Harto kan ada peristiwa ‘98 itu. Itu persoalan besarnya,” ujar Ray.
“Karena nggak ada peristiwa yang bener-bener harus buat orang mengevaluasi. Perjalanannya bisa, proses legalitas terjadi, kekuasaan dua periode, serah terima tapi setelah itu dipersoalkan orang,” paparnya.
Fenomena itu membuat kultur pejabat yang selalu akan merasa aman setelah selesai menjabat merasa aman menjadi aman.***