Menkeu Purbaya Sentil Pihak yang Ragukan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,12 Persen, Blak-blakan Bilang Begini

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Senin, 22 September 2025 | 21:15 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya singgung data pertumbuhan ekonomi dari BPS.  (Tangkapan layar YouTube Kementerian Keuangan RI)
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya singgung data pertumbuhan ekonomi dari BPS. (Tangkapan layar YouTube Kementerian Keuangan RI)

REDAKSI88.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak ada manipulasi dalam data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Seperti diketahui, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2025 sebesar 5,12 persen. Data tersebut sempat menuai perdebatan karena sebagian pihak meragukannya.

Purbaya menyatakan pertumbuhan 5,12 persen mencerminkan ketahanan ekonomi domestik yang ditopang konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, serta ekspor yang tetap kuat.

Baca Juga: Modus Kredit Fiktif Terungkap, 3 Pegawai Bank Bengkulu Dijebloskan ke Tahanan

Ia merinci konsumsi rumah tangga tumbuh 5 persen, investasi naik 6,99 persen, investasi bangunan meningkat 4,9 persen, dan investasi mesin melonjak 25,3 persen.

“Sebagian dari Anda menganggap angka ini salah. (Pertumbuhan) 5,12 (persen) katanya 5+1+2=8, tapi bukan itu. Di belakangnya kalau Anda lihat, laju pertumbuhan uang pada triwulan II itu tumbuh cukup kencang. Jadi memang itu yang mendorong belanja konsumen tumbuh kuat 5 persen,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KITA, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (22/9/2025).

“Triwulan II angkanya memang seperti itu. Tidak ada manipulasi BPS. Kalau yang nyangkal-nyangkal itu, ekonominya nggak pada ngerti. Menteri Keuangan boleh ngomong gitu kan, ya? Jadi lihat juga suplai uang pada waktu itu seperti apa,” tambahnya.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Strategi Pangkas Subsidi Listrik Tanpa Bebani Rakyat

Purbaya menambahkan pemerintah sempat menggenjot likuiditas hingga April 2025 melalui berbagai insentif. Namun, pelonggaran tersebut bersifat sementara.

“Waktu itu digenjot uang sampai dengan bulan April. Ada delay-nya, April, Mei, Juni, Juli, biasanya tiga bulan. Mei digenjot lagi ke bawah uangnya, sehingga uangnya melambat dan kita mengalami pelambatan ekonomi setelah itu,” paparnya.

Sebelumnya, keraguan terhadap data pertumbuhan ekonomi sempat ditanggapi Istana. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan saat itu, Hasan Nasbi, menegaskan pemerintah selalu menyampaikan data sesuai kondisi sebenarnya.

Baca Juga: AHY Kawal Pembangunan IKN, Target Jadi Ibu Kota Politik 2028 Meski Anggaran Tersendat

“Kalau keresahan mungkin framing ya, saya juga membaca beberapa ekonom yang mungkin tidak terlalu positif melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif,” kata Hasan dalam keterangan di Kantor Kwarnas, Jakarta, 7 Agustus 2025.

Hasan menekankan pemerintah tidak pernah merekayasa data pertumbuhan.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X