Jejak Islam di Bengkulu: Perjalanan Panjang Dakwah dan Akulturasi Budaya

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Selasa, 4 Maret 2025 | 11:00 WIB
Masjid Raya Baitul Izzah Kota Bengkulu. (Facebook.com / Bengkulu Info)
Masjid Raya Baitul Izzah Kota Bengkulu. (Facebook.com / Bengkulu Info)

Tidak hanya itu, pernikahan antara Putri Gading Cempaka, anak Ratu Agung, dengan utusan dari Kerajaan Pagaruyung, Sri Bagindo Maharaja Sakti, menandai berdirinya Kerajaan Sungai Limau. 

Melalui ikatan ini, nilai-nilai Islam dari Pagaruyung meresap dan menguatkan fondasi keagamaan di Bengkulu.

Baca Juga: Keutamaan Tadarus Al Qur’an di Bulan Ramadhan, Pahala Berlipat hingga Syafaat di Akhirat

  1. Hubungan Persahabatan dan Interaksi Antar Kerajaan

Kisah lain menyebutkan bahwa persahabatan antara Kerajaan Selebar dan Kerajaan Banten turut membuka pintu Islam di Bengkulu. 

Begitu pula, hubungan antara Rejang Sabah dan Kerajaan Palembang Darussalam memainkan peran penting. 

Saat Rejang Sabah menghadapi serangan pasukan Bugis, permohonan bantuan dari Rejang Belek Tebo Rejang di Lebong dan Palembang Darussalam membawa pengaruh Islam yang semakin menguat di kalangan masyarakat.

  1. Peran Suku Rejang dan Migrasi

Suku bangsa Rejang, yang merupakan penduduk tertua di Bengkulu dan bermukim di Rena Sekalawi serta Rena Sekalau, diyakini menerima Islam melalui hubungan kekeluargaan dengan Kerajaan Indrapura. 

Dipimpin oleh Raja Rio Mawang dan penerusnya, Kikarang Nio (Sultan Abdullah Kikarang Nio), masyarakat Rejang kemudian berhijrah ke berbagai wilayah, salah satunya ke Bengkulu Tinggi, dan mendirikan Kerajaan Sungai Serut yang kemudian dipimpin oleh Ratu Agung.

Baca Juga: 5 Manfaat Puasa Ramadhan untuk Anak, dari Kesehatan hingga Karakter

Transformasi dan Penyebaran Islam

Kisah pertempuran epik antara pasukan Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda dengan Kerajaan Sungai Serut menandai masa pergolakan. 

Karena keterbatasan wilayah Sungai Serut, kerajaan tersebut hancur, dan sisa-sisanya mengungsi ke Gunung Bungkuk di Bengkulu Utara. 

Di tengah keterpurukan itu, kepemimpinan baru muncul. Raja Anak dalam Muaro Bangkahulu kembali memimpin masyarakat, dan pada masa yang sama, seorang dai dari Aceh, Malin Muhidin, kembali menyemai dakwah Islam. 

Jejak-jejak dakwah beliau bahkan tercatat dalam tulisan bambu di daerah Komering Ulu.

Baca Juga: Sejarah Shalat Tarawih, Dari Rasulullah Hingga Tradisi Masa Kini

Era Kolonial dan Kebangkitan Islam Modern

Setelah melewati berbagai dinamika sejarah, pengaruh Islam di Bengkulu semakin mengakar seiring masuknya era kolonial dan berlanjut ke masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: Berbagai Sumber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X