Resesi Mengintai! Begini Strategi Prabowo Hadapi Dampak Tarif Impor AS 32 persen pada 2025

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 4 April 2025 | 15:18 WIB
Langkah Trump Naikkan Tarif Impor di Berbagai Negara yang Menimbulkan Risiko Tinggi. (instagram.com/whitehouse)
Langkah Trump Naikkan Tarif Impor di Berbagai Negara yang Menimbulkan Risiko Tinggi. (instagram.com/whitehouse)

REDAKSI88.com – Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan kenaikan tarif impor sebesar 32% terhadap produk Indonesia, efektif mulai Rabu, 3 April 2025, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri.

Langkah ini diprediksi berdampak signifikan pada ekspor Indonesia, khususnya di sektor otomotif, elektronik, serta industri padat karya seperti tekstil dan garmen.

Menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), kebijakan tarif baru ini berpotensi memicu resesi pada kuartal IV 2025 dan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha 2025: Jatuh pada Juni, Ini Prediksi dan Tanggal Liburnya

Namun, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah merancang sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Noudhy Valdryno, Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), mengungkapkan tiga kebijakan utama yang disiapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

1. Ekspansi Mitra Dagang melalui Keanggotaan BRICS

Indonesia resmi bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sebagai upaya memperluas akses pasar ekspor.

Keanggotaan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasar AS melalui perjanjian dagang multilateral dengan negara-negara anggota BRICS.

Baca Juga: OpenAI Terancam Berhadapan dengan Hukum, Ghibli Berhak Gunakan UU Hak Cipta AS karena Pendirinya Keberatan

2. Percepatan Hilirisasi Sumber Daya Alam

Pemerintah mempercepat hilirisasi sektor pertambangan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor, tidak hanya mengandalkan bahan mentah.

Kebijakan serupa sebelumnya sukses meningkatkan nilai ekspor nikel dari US$ 3,7 miliar (2014) menjadi US$ 34,3 miliar (2022).

3. Peluncuran BPI Danantara untuk Pendanaan Hilirisasi

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dibentuk untuk mendanai proyek hilirisasi di sektor strategis seperti mineral, energi, dan perkebunan, guna meningkatkan daya saing industri domestik.

Selain strategi perdagangan, pemerintah juga fokus pada penguatan ekonomi domestik melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditargetkan menjangkau 82 juta penerima manfaat pada akhir 2025 untuk mendorong daya beli masyarakat.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X