Update Nego Dagang RI-AS: Airlangga Tegaskan Tak Bahas Isu 'Pasar Barang Bajakan' Usai Mangga Dua Disorot Trump

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Sabtu, 26 April 2025 | 10:55 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (kanan).  (Instagram.com / @potus - @airlanggahartarto.official)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (kanan). (Instagram.com / @potus - @airlanggahartarto.official)

Redaksi88.com – Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa isu Pasar Mangga Dua yang disebut-sebut sebagai 'pasar barang bajakan' oleh Amerika Serikat (AS), tidak masuk dalam agenda negosiasi dagang bilateral antara Indonesia dan AS.

Sebagaimana tercantum dalam National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers 2025 yang dirilis berdasarkan kebijakan Presiden AS Donald Trump, Pasar Mangga Dua di Jakarta disorot sebagai salah satu pusat peredaran barang bajakan dan produk palsu.

AS pun memasukkan kawasan tersebut dalam daftar pasar dengan pelanggaran serius terhadap kekayaan intelektual.

Baca Juga: Menguasai Data di Era Digital: Ini 3 Skill Wajib agar Makin Kompetitif di Dunia Kerja

Namun, menurut Airlangga, isu tersebut sama sekali tidak menjadi bagian dari pembahasan teknis antara pemerintah Indonesia dan pejabat tinggi dari AS.

Ia menegaskan bahwa isu Mangga Dua tidak masuk ke dalam detail pembicaraan dalam negosiasi dagang RI-AS.

“Tidak ada pembahasan soal Mangga Dua, jadi ini tidak ada detail inti. Jadi ini pertanyaan yang ramai, ini variasinya banyak kayak bahan bimbel,” ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 25 April 2025.

Airlangga juga menjelaskan bahwa fokus utama negosiasi bilateral tersebut lebih diarahkan pada penguatan kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, bukan pada isu sektoral yang bukan prioritas strategis.

Baca Juga: Bupati Egi Berikan Bantuan Perbaikan Rumah untuk Warga Korban Musibah di Desa Kertosari

Pemerintah, lanjutnya, lebih memusatkan perhatian pada pengembangan sektor industri nasional dengan menekankan pentingnya inovasi teknologi.

Selain itu, pembahasan juga mencakup isu energi ramah lingkungan, penguatan sumber daya manusia (SDM), dan perluasan akses ke pasar internasional.

Airlangga menilai, perubahan fokus ini sejalan dengan posisi Indonesia yang baru saja bergabung dalam kelompok BRICS yang dianggap membuka akses pasar baru.

“Ini perubahan yang cukup mendasar. Tentu Indonesia baru masuk BRICS dan ini jadi akses pasar baru,” tuturnya.

Baca Juga: Heboh Soal Gibran Disuruh Lengser dari Wapres, Wiranto Blak-blakan Prabowo Takut Warga RI Ikut Gaduh

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: Pemberitaan Media Siber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X