REDAKSI88.com – Konflik perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas dengan kebijakan tarif impor yang saling dibalas. Isu ini pun menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial (Medsos).
Awalnya, Presiden AS Donald Trump menerapkan kebijakan tarif impor terhadap produk China setinggi 145 persen.
Kebijakan tarif Trump diambil sebagai respons terhadap negara-negara yang dinilai merugikan kepentingan ekonomi AS.
Namun, China tidak tinggal diam. Negeri Tirai Bambu itu membalas dengan mengenakan tarif impor 125 persen pada produk-produk AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam Tinggi, Catat Harga Terkini Sebelum Beli atau Jual!
Dinamika perang dagang ini memicu berbagai analisis, termasuk dari influencer asal Indonesia, Raymond Chin, yang justru menilai AS telah kalah telak dari China.
Dalam salah satu unggahan di kanal YouTube-nya pada Selasa, 15 April 2025, Raymond Chin menjelaskan bahwa kebijakan Trump tersebut ditujukan untuk melindungi kepentingan ekonomi AS.
"Jadi dia (Trump) bikin tarif khusus untuk negara-negara yang merugikan AS, itu biaya pajak impornya tuh lebih tinggi," ujar Raymond.
Meski AS menetapkan persentase tarif lebih besar, Raymond justru menilai Negeri Paman Sam sedang dalam posisi kalah. Bahkan, banyak prediksi menyebut China akan menjadi pemenang utama dalam perang dagang ini.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Cairkan Tukin Dosen ASN Juli 2025, Hak sejak 1 Januari Ikut Dibayarkan
"Semua prediksi juga bilang China itu akan jadi nomor satu, sekarang presiden AS berpikir bagaimana caranya tetap bisa kontrol powernya agar tidak disalip China," jelasnya.
Lebih lanjut, Raymond menyoroti bahwa AS kini tertinggal di hampir semua lini bisnis, kecuali di bidang teknologi.
"Mayoritas orang itu mikirnya seperti ekonomi, digital, AI, tapi di semua sektor AS itu lagi kalah," sebutnya.
Satu-satunya keunggulan AS, menurutnya, adalah inovasi teknologi, terutama dari segi kekayaan intelektual (IP). Perusahaan seperti Tesla, Microsoft, dan Apple masih menjadi tulang punggung dominasi AS di kancah global.