Sebelum pertemuan bilateral dengan AS, Indonesia akan berdiskusi dengan pemimpin ASEAN pada 10 April 2025 guna menyamakan persepsi.
Pemerintah juga telah merancang empat strategi utama diantara adalah perjanjian Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) yang ditandatangani pada 1996 dinilai sudah tidak relevan.
Indonesia akan mendorong pembaruan kesepakatan ini agar mencakup isu-isu perdagangan terkini.
Pemerintah berencana melonggarkan aturan Non-Tariff Measures (NTMs), termasuk persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor TIK, serta mengevaluasi larangan ekspor-impor tertentu.
Indonesia siap memperbesar pembelian produk AS, termasuk minyak dan gas bumi, untuk menyeimbangkan defisit perdagangan.
Pemerintah akan memberikan keringanan bea masuk, PPh impor, dan PPN impor untuk produk AS guna mendorong impor sekaligus menjaga daya saing ekspor Indonesia.
"Kami berupaya meningkatkan volume perdagangan yang mencapai $18 miliar, termasuk impor gandum, katun, dan migas dari AS," papar Airlangga.***
Artikel Terkait
Daftar Korban Kecelakaan Tragis Mobil Rombongan Umroh vs Bus di Gresik: 7 Meninggal, 2 Luka-Luka
Kisah Pilu Calon Pengantin Usai Tunangannya Tewas dalam Kecelakaan Rombongan Umroh di Gresik: Dia Bilang ‘Aku Berangkat’
Bupati Egi Apresiasi Kritik Kreatif Warga Soal Jalan Rusak: Terima Kasih Sudah Beraspirasi dengan Cara Unik
Prabowo Gebrak Parlemen Turki: Kecam Penindasan Bangsa Besar dan Desak Dunia Buka Mata atas Tragedi Gaza
Prabowo Berpidato di Parlemen Turki, Tegaskan Dukungan Indonesia untuk Palestina
Soal Alur Pelayaran Kritis di Pulau Baai, Ini Permintaan Bupati ASA kepada Kemenhub