Tepuk Sakinah: Gerakan Lembut di Tengah Badai Perceraian

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Minggu, 5 Oktober 2025 | 23:52 WIB
Mengintip fenomena viral tepuk sakinah yang ramai di media sosial, ternyata mengandung makna yang menyentuh akar persoalan keluarga.  (X.com/@racunracun)
Mengintip fenomena viral tepuk sakinah yang ramai di media sosial, ternyata mengandung makna yang menyentuh akar persoalan keluarga. (X.com/@racunracun)

Menag Nazaruddin menyebut, selama mengandung nilai positif, gerakan seperti ini patut dikembangkan.

“Ya, segala hal yang positif akan kita kembangkan. Yang negatif akan kita hilangkan,” ujarnya.

Baca Juga: Menhan Sjafrie Ungkap Pesan Prabowo usai Bertemu Jokowi Selama 2 Jam

Antara Edukasi dan Gimik

Secara terpisah, Kepala Biro Humas Kemenag, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa Tepuk Sakinah bukanlah kewajiban dalam prosesi pernikahan.

“Fungsinya adalah sebagai ice breaking dalam pelatihan Bimbingan Perkawinan di KUA agar suasana lebih ringan dan menarik,” jelas Thobib dalam keterangan resmi, 27 September 2025.

Menurutnya, Tepuk Sakinah bertujuan mengingatkan lima pilar keluarga sakinah: berpasangan, janji kokoh, musyawarah, saling cinta dan hormat, serta saling ridha.

“Lewat cara sederhana, peserta diharapkan lebih mudah mengingat dan memahami nilai-nilai itu,” tambahnya.

Namun, banyak pihak mengingatkan agar pendekatan ini tidak berhenti sebagai gimik viral, melainkan disertai program pembinaan keluarga yang lebih substansial—terutama untuk menekan angka perceraian akibat faktor ekonomi dan ketimpangan peran gender.

Makna di Balik Tepukan

Sekilas terdengar seperti permainan anak-anak, tapi di balik gerakan kecil itu tersimpan ajakan besar untuk menepati janji, menjaga cinta, dan saling menghormati.

Bagi sebagian calon pengantin, Tepuk Sakinah menjadi pengingat lembut bahwa pernikahan tidak berhenti di pelaminan.

Bahwa kebahagiaan keluarga bukan hasil spontan, melainkan hasil dari ritme kesabaran dan kesetiaan yang dijaga bersama.

Kini, Tepuk Sakinah bukan lagi sekadar tren viral. Ia menjelma menjadi simbol—tentang bagaimana bangsa ini terus mencari bahasa baru untuk merawat cinta dan keluarga di tengah dunia yang semakin bising.

Sebab, di balik setiap tepukan kecil itu, ada harapan besar agar cinta tetap sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah.***

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X