Istilah "Lipstick Effect" pertama kali dikemukakan oleh Leonard Lauder, Chairman Emeritus The Estée Lauder Companies Inc., pasca-tragedi 9/11 di Amerika Serikat.
Saat itu, perekonomian AS melemah, banyak orang kehilangan pekerjaan, tetapi penjualan lipstik justru meningkat drastis. Hal ini disebabkan oleh perubahan pola konsumsi, di mana masyarakat beralih ke bentuk kemewahan yang lebih murah dan mudah dijangkau.
"Terjadilah efek yang disebut sebagai 'kemewahan yang terjangkau', seperti lipstik, skincare, dan hiburan murah meriah. Ini juga terbukti saat pandemi COVID-19, di mana produk kecantikan tetap laris manis," jelas Rhenald.
Di Indonesia, efek ini terlihat saat liburan Imlek 2025. Meskipun banyak yang mengeluhkan penurunan daya beli, masyarakat tetap berbondong-bondong berwisata ke tempat-tempat yang terjangkau sebagai bentuk hiburan.
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini memang menunjukkan tanda-tanda pelemahan daya beli, terutama akibat kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada 2025.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah mitigasi agar daya beli masyarakat tidak semakin terpuruk.
"Pemerintah harus fokus pada mitigasi risiko penurunan daya beli melalui program kesejahteraan dan pemberdayaan UMKM," ujar Josua pada 23 Desember 2024 lalu.
Baca Juga: Coca Cola Tarik Produk dari Eropa karena Kandungan Klorat Tinggi, Bagaimana dengan di Indonesia?
Josua menekankan bahwa insentif yang diberikan pemerintah harus benar-benar tepat sasaran untuk melindungi daya beli masyarakat.
"Kebijakan ini bisa efektif jika kompensasi dalam bentuk insentif benar-benar mampu menjaga daya beli masyarakat yang rentan," tambahnya.
Pemerintah telah memastikan bahwa barang kebutuhan pokok, jasa kesehatan, pendidikan, dan transportasi umum akan bebas dari PPN, tetapi tantangan ekonomi tetap harus diantisipasi.
Selain daya beli, pengangguran juga menjadi isu krusial yang harus ditangani pemerintah.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Agustus 2024, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,47 juta orang, meskipun turun 390 ribu orang dibanding tahun sebelumnya.
Sebagai langkah nyata, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) akan menggelar bursa kerja di Jakarta, Bandung, dan Makassar pada Februari 2025 untuk menekan angka pengangguran.
Artikel Terkait
4 Fakta Penembakan Polisi Malaysia kepada 5 WNI di Selangor, Salah Satunya Ada Perbedaan Kronologi yang Diungkap
Kebakaran Hutan Melanda Melbourne Barat akibat Gelombang Panas, Pemerintah Langsung Keluarkan Perintah Evakuasi
Coca Cola Tarik Produk dari Eropa karena Kandungan Klorat Tinggi, Bagaimana dengan di Indonesia?
Banjir Bandang di Jalur Pantura Batang, 6 Laju Kereta Api Terganggu, BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan di Jateng
Donald Trump Tawarkan Pensiun Dini bagi PNS AS dengan Pesangon 8 Kali Gaji, Ini Alasannya
Donald Trump Hentikan Bantuan Obat, Ancaman HIV-AIDS, Malaria, dan TBC Melonjak Drastis