Donald Trump Hentikan Bantuan Obat, Ancaman HIV-AIDS, Malaria, dan TBC Melonjak Drastis

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Kamis, 30 Januari 2025 | 19:55 WIB
Ilustrasi dampak bahaya pada nyawa banyak orang usai Trump memutuskan menghentikan bantuan obat.  (Freepik/rawpixel.com)
Ilustrasi dampak bahaya pada nyawa banyak orang usai Trump memutuskan menghentikan bantuan obat. (Freepik/rawpixel.com)

REDAKSI88.com - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump mengambil langkah kontroversial dengan menghentikan pasokan obat penting yang menyelamatkan nyawa pasien HIV, malaria, dan tuberkulosis (TBC).

Selain itu, kebijakan ini juga mencakup penghentian distribusi perlengkapan medis bagi bayi baru lahir di negara-negara penerima bantuan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Langkah tersebut terungkap setelah kontraktor dan mitra USAID menerima memo resmi pada Selasa, 28 Januari 2025, yang menginstruksikan penghentian seluruh bantuan medis secara tiba-tiba.

Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pembekuan dana bantuan luar negeri yang diberlakukan sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden pada 20 Januari 2025.

Baca Juga: Donald Trump Tawarkan Pensiun Dini bagi PNS AS dengan Pesangon 8 Kali Gaji, Ini Alasannya

Salah satu penerima memo penghentian bantuan adalah Chemonics, sebuah firma konsultan besar AS yang telah lama bekerja sama dengan USAID dalam mendistribusikan obat ke seluruh dunia.

Memo tersebut mencakup penghentian pasokan obat HIV, malaria, dan TBC, serta kontrasepsi dan perlengkapan kesehatan bagi ibu dan anak di banyak negara.

"Ini adalah bencana besar," kata Atul Gawande, mantan kepala kesehatan global USAID, yang baru saja meninggalkan posisinya setelah kebijakan ini diumumkan.

“Sumbangan pasokan obat telah menjaga kelangsungan hidup 20 juta orang dengan HIV. Itu berhenti hari ini,” tambahnya, menyoroti dampak serius penghentian program tersebut.

Baca Juga: Banjir Bandang di Jalur Pantura Batang, 6 Laju Kereta Api Terganggu, BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan di Jateng

Gangguan distribusi obat berisiko tinggi membuat pasien kembali jatuh sakit, sementara bagi penderita HIV, ini meningkatkan peluang penularan virus ke orang lain.

Penghentian terapi juga dapat memicu kemunculan strain virus yang resisten terhadap pengobatan, sehingga mengancam efektivitas terapi di masa mendatang.

Menurut Gawande, beberapa mitra USAID menerima pemberitahuan serupa, yang berarti mereka tak lagi bisa mengirimkan obat ke klinik atau membuka fasilitas medis yang sebelumnya didanai AS.

Akibatnya, organisasi yang menangani 6,5 juta anak yatim dan anak-anak rentan yang terinfeksi HIV di 23 negara kini terancam kehilangan dukungan penting.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X