REDAKSI88.com – Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan kenaikan tarif impor sebesar 32% terhadap produk Indonesia, efektif mulai Rabu, 3 April 2025, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri.
Langkah ini diprediksi berdampak signifikan pada ekspor Indonesia, khususnya di sektor otomotif, elektronik, serta industri padat karya seperti tekstil dan garmen.
Menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), kebijakan tarif baru ini berpotensi memicu resesi pada kuartal IV 2025 dan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.
Baca Juga: Hari Raya Idul Adha 2025: Jatuh pada Juni, Ini Prediksi dan Tanggal Liburnya
Namun, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah merancang sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi dampak tersebut.
Noudhy Valdryno, Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), mengungkapkan tiga kebijakan utama yang disiapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
1. Ekspansi Mitra Dagang melalui Keanggotaan BRICS
Indonesia resmi bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sebagai upaya memperluas akses pasar ekspor.
Keanggotaan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasar AS melalui perjanjian dagang multilateral dengan negara-negara anggota BRICS.
2. Percepatan Hilirisasi Sumber Daya Alam
Pemerintah mempercepat hilirisasi sektor pertambangan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor, tidak hanya mengandalkan bahan mentah.
Kebijakan serupa sebelumnya sukses meningkatkan nilai ekspor nikel dari US$ 3,7 miliar (2014) menjadi US$ 34,3 miliar (2022).
3. Peluncuran BPI Danantara untuk Pendanaan Hilirisasi
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dibentuk untuk mendanai proyek hilirisasi di sektor strategis seperti mineral, energi, dan perkebunan, guna meningkatkan daya saing industri domestik.
Selain strategi perdagangan, pemerintah juga fokus pada penguatan ekonomi domestik melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditargetkan menjangkau 82 juta penerima manfaat pada akhir 2025 untuk mendorong daya beli masyarakat.
Artikel Terkait
THR Eks Pekerja Sritex Masih Menggantung, Begini Kata Wamenaker
Kabaharkam Polri Tinjau Pengamanan Jalur Mudik, Fokus Antisipasi Kemacetan Arus Balik
Maraknya Perampasan Kendaraan oleh Oknum Debt Collector di Bengkulu
Viral di Indonesia, Pemilik Studio Ghibli Justru Merasa Terhina dengan Tren AI di ChatGPT
OpenAI Terancam Berhadapan dengan Hukum, Ghibli Berhak Gunakan UU Hak Cipta AS karena Pendirinya Keberatan
Hari Raya Idul Adha 2025: Jatuh pada Juni, Ini Prediksi dan Tanggal Liburnya